JOMBANG, SELASA — Aksi pembunuhan yang dilakukan Veri Idam Henyansyah alias Ryan (30) terhadap 11 korbannya telah menginspirasi sebuah penerbit untuk mencetak buku tentang sosok jagal asal Jombang tersebut. Hasilnya, buku berjudul Tragedi Ryan yang dijual Rp 4.000 setebal 32 halaman itu pun laris manis.
Buku bersampul warna putih dengan huruf yang didominasi warna merah darah itu bergambar wajah Ryan dan ditulis oleh Muhim K.
Buku tersebut mulai terlihat sejak Kamis (14/8) lalu. Pengedarnya, antara lain para pengasong yang biasa mangkal di terminal bus Jombang dan subterminal Mojoagung. Buku tersebut juga terdapat di etalase beberapa kios buku di Jombang dan sekitarnya.
Pemilik agen majalah dan koran di Terminal Kepuhsari, Jombang, Sentot, mengatakan, buku tersebut sangat laris. “Hanya dalam waktu setengah hari, 200 eksemplar terjual,” kata Sentot, Sabtu (16/8).
Sentot juga mengaku termasuk salah satu agen yang mengerahkan para pengasong untuk menjajakan buku tersebut. Menurut warga Desa Kepuhkembeng, Kecamatan Peterongan ini, buku Ryan diminati pembeli karena banyak orang masih penasaran dengan keganasan Ryan yang tega menjagal sedikitinya 11 orang.
“Pembelinya kebanyakan malah bukan orang Jombang, tetapi penumpang kendaraan umum yang transit di Terminal Jombang,” Sentot menjelaskan. Sentot mengaku mendapatkan pasokan buku tersebut dari Surabaya. Awalnya dia ragu buku sang penjagal asal Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, tersebut akan laku. “Ternyata malah laris, anak-anak pengasong justru kewalahan. Mereka berkali-kali minta tambahan buku karena cepat habis,” cetus Sentot.
Ditanya soal keuntungan yang diperoleh, Sentot menolak menyebutkan. “Pokoknya lumayan. Hal-hal begini kan tidak tiap hari terjadi,” kata Sentot.
Seorang penumpang bus, Lutfan Satya, mahasiswa ITS yang hendak kembali ke Surabaya dari pulang kampung di Nganjuk, mengaku membeli buku tersebut karena ingin tahu lebih detail tentang kasus tersebut, termasuk sosok sang jagal. “Hitung-hitung untuk membunuh waktu selama perjalanan ke Surabaya,” kata Luthfan.
Seperti diketahui, nama Ryan mendadak jadi bahan pemberitaan nasional setelah terbukti membantai 11 korbannya, salah satunya bernama Heri Santoso yang dimutilasi menjadi tujuh bagian dan tubuhnya ditemukan di kawasan Jl Kebagusan Jakarta.
Sedangkan 10 korban lainnya, mayatnya dikubur di pekarangan rumah orangtuanya di Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Jombang.
Dari 11 korban itu, 10 di antaranya sudah berhasil diidentifikasi setelah dilakukan uji laboratorium forensik di Dokpol Pusdokkes Mabes Polri di Jakarta. Selain Heri Santoso, mereka adalah Ariel Somba Sitanggang, Vincentius, Guruh, dan Graddy Adam Tumbuan.
Keempat kerangka korban tersebut sudah diserahkan kepada keluarga masing-masing. Sementara itu, jenazah Silvia D Ramadhani, Nanik Hidayati, M Akhsoni alias Soni, M Zainul Abidin, serta kerangka Agustinus Fitri Setiawan diserahkan kepada keluarganya, Jumat (15/8) lalu.
“Kini tinggal satu jenazah yang belum teridentifikasi,” ujar Kabiddokes Polda Jatim Kombes Pol Rudi Herdi Saputro. Masih misteriusnya seorang korban Ryan itu lantaran DNA pembanding yang diambil dari empat keluarga yang telah melapor kehilangan keluarganya hasilnya nonidentik. Kerangka tubuh yang diperkirakan berusia 20 hingga 30 tahun ini teridentifikasi berjenis kelamin laki-laki dan ras mongoloid.
“Susunan giginya masih lengkap. Identitas lain yang masih ada adalah 10 buah gelang karet yang melekat di lengan kiri korban serta kalung dari butiran kayu,” ujar anggota tim forensik Polda Jatim Kompol dr Heri Widjatmoko. Kerangka Mr X itu hingga kemarin masih disimpan di kamar jenazah RS Bhayangkara Polda Jatim. (ST8)

