JAKARTA, MINGGU - Peneliti senior Centre for Strategic and International Studies, J Kristiadi, mengaku tidak jadi soal jika partai politik (parpol) tertentu memilih untuk mengambil orang-orang di luar kader parpolnya, seperti dari kalangan artis maupun profesional, untuk kemudian dijadikan sebagai calon legislatif. Hal seperti itu sah-sah saja untuk dilakukan namun tetap dengan hati-hati.
Menurut Kristiadi, parpol yang bersangkutan harus mampu menunjukkan dirinya dapat menggembleng orang-orang luar tadi agar mampu dan mau memperjuangkan nasib rakyat begitu terpilih nanti. Pernyataan itu disampaikan Kristiadi, Minggu (17/8), saat dihubungi per telepon.
Namun tetap, tambahnya, fenomena parpol memilih artis atau profesional di luar para kadernya untuk menarik dukungan suara seperti itu menunjukkan lemah dan dangkalnya kondisi perpolitikan di Indonesia. "Semua itu menunjukkan kaderisasi parpol sangat buruk. Jika tidak, mereka kan tidak mau main comot kiri kanan orang luar. Saya bukan anti artis, namun bukan kah profesi mereka selama ini selalu memerankan orang selain dirinya? Apa bisa mereka nanti memperjuangkan nasib konkret rakyat?" ujar Kristiadi.
Anggapan siapa pun bisa menjadi politisi, seperti terjadi sekarang, dinilai Kristiadi menunjukkan kedangkalan dan pragmatisme politik dan para politisi parpol di Indonesia sekarang ini. Dengan jalan apa pun para politisi dan parpol itu berupaya keras mencari dukungan suara dari masyarakat, tanpa merasa perlu untuk mengetahui apakah orang yang diambilnya benar-benar punya komitmen sesuai dengan apa yang diperjuangkan parpolnya.
"Orang-orang yang asal dicomot itu, selain 'tidak berkeringat', tentunya sangat meragukan dan belum tentu bisa diharapkan mampu memperjuangkan nasib rakyat. Mereka akan tetap dimajukan, kecuali memang kenyataannya para politisi sekarang pikirannya sudah sedemikian dangkal," ujar Kristiadi.

