Jumat, 18 April 2014

News / Regional

Menikmati Matahari Terbenam di Lalos

Sabtu, 16 Agustus 2008 | 08:37 WIB

Baca juga

 

Oleh Reny Sri Ayu Taslim

SORE hari pada akhir Juni 2008, ombak di Pantai Lalos, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah (325 km arah utara Palu), mengempas keras. Buih-buihnya menyapu pasir putih di pantai. Matahari yang perlahan tenggelam menggurat warna jingga di permukaan air. Bias cahayanya membuat segala benda dan makhluk di pantai membentuk siluet.

Puluhan pengunjung tampak menikmati keindahan ini. Sebagian asyik bermain bola dan berkejar-kejaran. Sebagian lainnya berenang. Banyak pula yang duduk beralas pasir sembari menikmati suara debur ombak dan cahaya jingga mentari. Tidak sedikit yang duduk menikmati camilan di pondok- pondok kayu di antara pepohonan sepanjang pesisir pantai.

”Hampir tiap akhir pekan saya menghabiskan waktu di Pantai Lalos. Kadang bersama keluarga, tetapi lebih sering bersama teman-teman. Pantainya indah dan agak teduh karena banyak pohon juga. Belum lagi matahari terbenam. Lumayan, liburan murah meriah tapi asyik,” kata Suriani (18), pengunjung yang sore itu datang serombongan dengan teman-temannya.

Sama yang dikatakan Faisal (30), pengunjung lainnya. ”Ombaknya tidak terlalu besar, pantainya bersih dan masih asli. Tapi yang lebih indah adalah saat matahari terbenam,” katanya.

Wisata pantai

Wisata alam, khususnya pantai, memang menjadi salah satu andalan Kabupaten Tolitoli. Dua pantai yang terkenal di Tolitoli adalah Pantai Sabang dan Lalos. Di kedua pantai ini, matahari terbenam menjadi daya tarik tersendiri yang bisa dinikmati setiap hari. Kelebihan lain, pasirnya bersih dan pantainya landai.

Ada pula pulau-pulau berpasir putih dengan beragam keunikan dan keindahan. Di antara sekian banyak pulau, Pulau Lutungan merupakan salah satu pulau yang menarik karena peninggalan bersejarah. Di pulau ini terdapat makam raja-raja Tolitoli. Ramai dikunjungi warga yang berziarah.

Secara umum, Tolitoli adalah kabupaten di bibir perairan Laut Sulawesi. Adapun ibu kota Tolitoli dan beberapa kecamatan di sekitarnya berada di sepanjang pesisir Teluk Dondo. Seperti lembah, kota ini dikelilingi gugusan pegunungan dengan Teluk Dondo di tengah-tengah dan berbatasan dengan Laut Sulawesi di mulut teluk.

Tak heran, pantai menjadi pemandangan di sepanjang jalan di Tolitoli. Adapun hamparan pegunungan menghijau dipenuhi tanaman cengkeh. Tak kurang 12.000 hektar areal tanaman cengkeh yang menghampar di gugusan pegunungan, yang oleh masyarakat setempat disebut lembah cengkeh.

Keindahan pantai di Tolitoli memang belum setenar Pantai Kuta di Bali atau Pantai Bira di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Namun, keindahan ini memikat hati wisatawan mancanegara. Tahun 2007 saja setidaknya tiga kali pantai-pantai di Tolitoli dikunjungi rombongan wisatawan dari Belanda, Filipina, dan beberapa negara lain.

”Rombongan ini masuk ke Tolitoli menggunakan kapal pesiar. Rombongan wisatawan ini melakukan perjalanan laut mulai dari Manado, Gorontalo, Tolitoli, Palu, dan ke Majene, Sulawesi Barat. Mereka mengagumi keindahan pantai ini, apalagi dengan matahari terbenamnya,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tolitoli Hasan Daeng Manipi.

Selebihnya, pengunjung pantai di Tolitoli adalah wisatawan lokal warga setempat dan warga dari kabupaten tetangga. Dari Palu, perjalanan menuju Tolitoli bisa ditempuh dengan dua cara, melalui darat dan udara. Melalui udara, perjalanan menggunakan pesawat perintis dengan waktu tempuh 45 menit dengan jadwal penerbangan dua kali sepekan.

Adapun perjalanan darat, terutama melalui pantai timur, kendati cukup jauh—sekitar 12 jam mengendarai mobil—sebenarnya mengasyikkan. Palu-Tolitoli akan melalui Kabupaten Parigi Moutong. Ini artinya akan melewati pesisir Teluk Tomini.

Perjalanan juga akan menempuh pendakian dan penurunan di Pegunungan Tinombala. Kendati ada bagian jalan di Tinombala yang rusak, hal itu tidak mengurangi dan mengganggu keindahan sepanjang jalan. Kabut di antara pepohonan, udara segar, dan pemandangan lembah yang luas nan hijau, perkebunan cengkeh, adalah keindahan yang bisa dinikmati dalam perjalanan menembus Gunung Tinombala.

Masih terkendala

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tolitoli Hasan Daeng Manipi mengakui, betapapun kaya potensi keindahan yang dimiliki Tolitoli, tetap saja banyak kendala di sana-sini dalam mengembangkan dan menjualnya.

Selain fasilitas yang masih terbatas, jarak tempuh yang bagi sebagian orang dinilai masih jauh, promosi juga masih sangat terbatas. Dengan anggaran untuk Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang tahun 2007 ini hanya Rp 1 miliar, pembenahan dan promosi sekaligus menjadi lambat.

”Terlebih pengelola biro perjalanan di Palu juga kurang membantu mempromosikan Tolitoli. Padahal, kalau mau dipromosikan, selain pantai, Tolitoli juga punya beberapa pulau dan kebun cengkeh yang sangat luas yang bisa menarik wisatawan,” kata Hasan.

Dari sarana atau fasilitas penunjang, hotel dan penginapan di Tolitoli masih terbatas, tak sampai 20. Itu pun belum ada hotel berbintang. Soal perjalanan darat yang memakan waktu, menurut Hasan, bagi wisatawan berjiwa petualang, perjalanan itu justru akan lebih menantang dan menjadi nilai lebih tersendiri.

Soal hotel, pemerintah setempat juga terus mendorong pengusaha lokal dan luar untuk menanam modal membangun hotel yang lebih baik. Hotel yang sudah ada didorong agar terus berbenah, termasuk dalam meningkatkan fasilitas hingga pelayanannya.

”Kami juga berharap (pemerintah) pusat mau membantu dalam hal anggaran dan promosi. Kami sendiri cukup rajin mengirim brosur dan pamflet ke berbagai pihak, termasuk di luar negeri, untuk terus memperkenalkan Tolitoli dan potensi wisatanya,” ujar Hasan.

Tanpa bermaksud sombong, Hasan mengatakan, potensi pantai di Tolitoli pantas dijual. ”Kalau dibandingkan dengan Kuta di Bali, Pantai Lalos tak kalah indah. Hanya saja, dalam soal nama dan promosi, Lalos kalah bersaing,” katanya.

Tak bisa dimungkiri, Lalos memang indah. Keindahannya bisa membuat siapa saja yang berkunjung betah berlama-lama, bahkan hingga matahari hilang berganti malam.


Editor :
Sumber: