Sabtu, 20 Desember 2014

News / Travel

Rusia (5): Matryoshka, Legenda Rusia dalam Boneka Kayu

Jumat, 15 Agustus 2008 | 07:03 WIB

Ribuan boneka kayu berbagai ukuran tersusun rapi di dalam sejumlah lemari kaca yang menutupi hampir seluruh dinding ruangan di toko itu. Berhiaskan warna-warna cerah,  kerajinan tangan ini menjadi dominan di antara berbagai cinderamata yang dipajang dalam toko yang berdiri di sudut pusat kota Chelyabinsk, Rusia.

Boneka kayu warna-warni, lengkap dengan glitter dan polesan fernis yang membuatnya tampak berkilau, menjadi perhatian utama para wisatawan yang berkunjung ke sana.

Meski berbeda-beda, ribuan boneka itu mempunyai ciri yang sama. Bola mata yang hitam dan lebar, dengan pipi merona merah dihiasi senyum mengembang. Wajah-wajah itu dipadukan dengan lukisan pakaian khas Rusia, berikut serumpun kembang, atau sekeranjang buah dan roti.

Sekalipun sulit untuk menggolongkan souvenir ini sebagai barang murah, tapi hiasan yang dijual mulai 500 rubel hingga 2000 atau 3000 rubel itu, tetap menjadi souvenir yang laris di sini. Kalau dikonversi dalam rupiah, 500 rubel kira-kira seharga Rp250 ribu. Bayangkan jika pilihan jatuh pada boneka seharga 3000 rubel, artinya harga yang harus dibayar mencapai Rp 1,5 juta.  Jumlah yang tak murah untuk ukuran Indonesia tentunya.

Bahkan, katanya, harga itu bisa lebih mahal kalau dibeli di toko souvenir di Moskwa, Ibu Kota Rusia. "Kalau di Moskwa, harga barang-barang di sini, termasuk Matryoshka itu bisa tiga sampai empat kali lipat lebih mahal. Segala hal memang lebih mahal di Moskwa," kata Alexander Tjan, salah satu penduduk Moskwa berdarah China yang sedang berkunjung ke situ.

Matryoshka atau yang juga dikenal dengan nama Babushka telah menjadi legenda Rusia. Boneka kayu yang dapat diisi dengan boneka-boneka yang lebih kecil ini kadang dikenal pula dengan nama Matroshka.

Selama berpuluh-puluh tahun, Matryoshka telah menjadi cinderamata paling populer dari Rusia, di samping samovar, alias vodka. Sekalipun tak ada yang bisa membuktikan dari mana dan kapan pertama kali ikon Rusia ini diciptakan, namun konon Matryoshka merupakan perkawinan budaya Rusia dengan mitologi Jepang.

Dulu, seniman Rusia menjadikan pahatan dan lukisan di permukaan kayu berbentuk telur sebagai ekspresi seni mereka. Karya seni inilah yang disebut dengan telur paskah Rusia.  Bagian tengah telur-telur kayu itu berlubang dan dapat diisi dengan telur yang ukurannya lebih kecil.  

Sementara di Jepang dikenal boneka yang menggambarkan kegembiraan dan kebijaksanaan dari Dewa Fukurokuju, yang adalah satu dari tujuh dewa di negeri matahari terbit.

Di abad 19, seorang pelukis Rusia bernama Sergey Malyutin mendapatkan kedua kreasi seni itu. Sebuah inspirasi kemudian melintas di pikirannya. Ia lalu menggambar sosok sebuah boneka kayu dan meminta pemahat bernama Vasiliy Zvyozdotchkin untuk membuatkannya.

Lalu Malyutin menggambari tubuh boneka tadi dengan pakaian tradisional wanita Rusia, lengkap berhiaskan kerudung. Dalam gambar itu terlihat si wanita sedang mendekap seekor ayam jantan berwarna hitam.  Sementara tujuh 'saudara' dari wanita itu kemudian di simpan di dalam boneka pertama. Mulai dari laki-laki, perempuan, hingga yang terakhir bersosok bayi.

Boneka mainan yang kemudian menjadi sangat digemari oleh anak-anak di Rusia itu pun menyimpan pesan mendalam tentang kuatnya kasih sayang seorang ibu dan semangat kekeluargaan. Sebuah cara penyampaian yang sangat sederhana, untuk pesan yang begitu mendalam.

Nama Matryoshka juga tidak dipilih dengan sembarangan. Konon, kala boneka itu diciptakan, Matryona adalah sosok wanita cantik yang sangat populer di negeri ini. Nama itu juga menjadi nama umum wanita-wanita Rusia, mungkin seperti nama Dewi di Indonesia. Serapan dari istilah latin 'mater' yang berarti ibu, pun makin memperdalam makna Matryoshka.

Kreasi ini pertama kali diproduksi secara massal di Moskwa, dan dijual dengan harga yang cukup mahal. Namun seusai Paris Fair tahun 1900  yang merupakan hajatan kelas dunia di jaman itu, banyak orang mulai mengenal dan ingin mengembangkan seni ini. Dalam Festival tadi, seorang wanita Rusia bernama Mamontova membawa dan memperkenalkan Matryoshka. Ia kemudian mendapatkan penghargaan medali perunggu atas usahanya itu.

Produksi massal pun lalu berpindah ke Sergiyev Posad, sebuah kota kecil di pinggiran Moskwa. Hanya butuh waktu beberapa tahun, kegiatan pembuatan kerajinan tangan ini kemudian menjadi mata pencarian bagi hampir seluruh penduduk Sergiyev Posad. Hebatnya, meski telah berkembang luas dengan permintaan pasar yang melimpah, hingga hari ini Matryoshka tetap menjadi boneka kayu buatan tangan.

Biasanya, boneka terkecil yang ukurannya sedikit lebih besar dari ibu jari adalah yang pertama dibuat. Kemudian dilanjutkan dengan boneka yang lebih besar. Begitu selanjutnya, sampai satu set Matryoshka rampung. Satu set biasanya berjumlah lima sampai tujuh boneka. Tapi rekor keluarga Matryoshka terbesar yang pernah di buat di Rusia adalah 72 buah.

Kini kreativitas Matryoshka pun makin berkembang. Salah satu yang paling menarik adalah ketika Rusia memasuki masa Perestroika. Matryoskha mulai dikreasikan dengan figur-figur para pemimpin Rusia, mulai dari Mikhail Gorbachev, Yuri Andropov, Konstantin Chernenko, Nikita Khrushchev dan Josef Stalin, serta yang terkecil adalah Vladimir Lenin diciptakan dalam bentuk Matryoshka. Versi terbaru pun sempat muncul, mulai dari Vladimir Putin, Boris Yeltsin, Mikhail Gorbachev, Joseph Stalin, dan tetap yang terkecil Vladimir Lenin.

Terakhir, sosok pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden bahkan tokoh utama novel karya JK Rowling, Harry Potter pun pernah dibuat dalam bentuk Matryoshka, dan menjadi sangat populer di Rusia.

Sayangnya, toko dua lantai dengan dominasi warna hijau dan putih di pusat pertokoan kota Chelyabinsk itu tak menjual koleksi-koleksi "modern" dalam figur tokoh-tokoh tersebut. Tapi bukankah menarik jika ide itu dipakai pula di Indonesia? Terbayangkah jika wajah wayang golek dengan karakter cakil yang paling terkenal itu dimodifikasi dengan wajahnya. Hmmm,...  bakal laris enggak ya?


(Bersambung)


Editor :