WASHINGTON, KAMIS - Amerika Serikat menantang Rusia agar menepati janjinya untuk mengakhiri invasi di Georgia. Menteri Luar Negeri AS, Condoleezza Rice menerangkan aksi militer Rusia selama 6 hari di Georgia merupakan suatu kemunduran dari masa kelam Perang Dingin.
Keterangan ini disampaikan oleh Condoleezza Rice, yang mengadakan sejumlah perundingan darurat untuk membahas krisis Rusia-Georgia di Eropa dan Tbilisi. "Rusia mungkin belum dapat menerima kenyataan bahwa telah waktunya untuk bergerak maju dari Perang Dingin menuju era baru hubungan antar negara bekas Soviet yang berpijak pada persamaan hak, kedaulatan serta integrasi ekonomi," kata Rice.
Pemerintah AS mencoba mendekati Georgia, negara sekutu di Laut Hitam yang memiliki cadangan energi yang belum dieksplorasi. Sementara Georgia yang merupakan bekas negara bagian Soviet berambisi meraih simbol kehormatan dengan menjadi sekutu AS dan Barat.
Saat AS menghimpun bantuan kemanusiaan untuk Georgia, Presiden George W. Bush menuntut Rusia mengakhiri seluruh aktivitas militer di negara tetangganya dan menarik seluruh pasukan yang dikirimkan beberapa hari terakhir ke wilayah Georgia. Bush mengumumkan bahwa aset dan personil militer AS akan dikerahkan ke zona konflik.
Walaupun hanya mengerahkan misi kemanusiaan, Bush menekankan bahwa AS akan menggunakan kapal angkatan laut dan pesawat militer untuk menyebarkan suplai kemanusiaan. Bush memperingatkan Rusia untuk tidak menghalangi bantuan kemanusiaan AS tersebut dengan cara apapun. Sikap itu ditujukan presiden AS tersebut untuk meredam kritik bahwa Bush tidak berupaya maksimal untuk mewujudkan janjinya pada tahun 2005 lalu di hadapan puluhan ribu warga di pusat ibukota Tbilisi bahwa ia akan berpihak ke masyarakat Georgia.

