Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 23:00 WIB
Rusia kepada AS: Pilih Kami atau Georgia
Adi Sasono | Kamis, 14 Agustus 2008 | 13:20 WIB
|
Share:

GETTY IMAGES/KEVIN LAMARQUE
Menlu AS Condoleezza Rice sedang memperhatikan koleganya Menlu Rusia Sergei Lavrov dalam jumpa pers 8 Maret 2008 di Moskow. Dalam konflik Georgia, Rice dan Lavrov berperang kata.

TERKAIT:

MOSKWA, KAMIS — Konflik di Georgia akhirnya melebar. Rusia yang tidak mau begitu saja ditekan AS balik menekan dan memaksa AS memilih salah satu, Rusia atau Georgia.

Ancaman itu dilontarkan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, Rabu (13/8) atau Kamis waktu Indonesia. Menurut Lavrov, AS harus memilih salah satu, hubungan pertemanan yang nyata dengan Rusia atau hubungan khayalan dengan Georgia.

"Kami sadar bahwa AS sangat tidak nyaman dalam proyek ini. Tetapi pilihan tetap harus diambil antara pertimbangan prestise hubungan khayalan dan pertemanan nyata yang membutuhkan upaya kolektif," kata Lavrov yang menyebut Georgia menjadi proyek bagi AS.

Namun, agaknya AS juga sudah tidak mau lagi mundur dari sikap semula, yaitu mendukung Georgia. "Soal pilihan, saya rasa AS sudah jelas memihak pemerintahan Georgia yang terpilih secara demokratis," kata Menlu AS Condoleezza Rice.

Rice pun mendesak Rusia mematuhi gencatan senjata setelah membaca laporan bahwa negara itu melanggar gencatan senjata yang ditandatangani, Selasa, oleh Rusia dan Georgia. Dalam gencatan senjata itu, kedua pihak sepakat menarik mundur pasukannya ke posisi sebelum konflik. "Rusia sudah terancam oleh konsekuensi internasional atas agresinya di Georgia," kata Rice.

Rice tidak khawatir Moskwa tidak akan membantu Washington lagi dalam diplomasi kasus nuklir Iran dan Korea Utara. "Mari kita perjelas kepentingan siapa yang terpenuhi dalam hubungan AS-Rusia dalam soal nuklir Iran dan Korea Utara? Bukan kepentingan AS," kata Rice.

Rice sendiri akan segera ke Paris lalu Tblisi untuk menggalang dukungan membebaskan Georgia. Rice mengatakan, "Ini bukan tahun 1968 dan invasi Czechoslovakia, tempat Rusia mengancam satu tetangganya, menguasai ibu kotanya, lalu menggulingkan pemerintahannya. Zaman sudah berubah," kata Rice.

Soal agresi itu, Wakil Perdana Menteri Rusia Sergei Ivanov membandingkan agresi negaranya dengan reaksi AS atas serangan 11 September 2001. "Kami hanya bereaksi, karena tidak punya pilihan lain. Setiap negara beradab akan bereaksi sama. Saya ingatkan soal 11 September, reaksinya mirip. Orang Amerika terbunuh. Anda tahu reaksinya," kata Ivanov kepada BBC World News.

Sumber :
CNN