Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 23:00 WIB
AS Batalkan Latihan Perang dengan Rusia
Adi Sasono | Rabu, 13 Agustus 2008 | 18:24 WIB
|
Share:

WASHINGTON, RABU - AS terus menekan Rusia atas agresinya ke Georgia. Setelah mengecam keras, AS akhirnya membatalkan latihan perang gabungan dengan Rusia.

"Sehubungan dengan konflik ini, tidak mungkin kami dapat meneruskan pelatihan gabungan ini pada saat sekarang," kata seorang pejabat senior pertahanan AS, yang berbicara tanpa bersedia namanya disebutkan, Selasa (12/8) atau Rabu (13/8) waktu Indonesia.
      
Ia mengatakan latihan gabungan yang diberi nama FRUKUS pada 15-23 Agustus itu telah dibatalkan. Latihan itu melibatkan  kapal-kapal perang dari Rusia, Prancis, Inggris dan AS di Laut Jepang serta komponen menuju pantai di pelabuhan Vladivostok, Rusia. Itu merupakan  bagian terakhir dari rangkaian  pelatihan perang gabungan  yang dimulai tahun 1988.
      
Pengumuman itu dibuat ketika pemerintah AS mempertimbangkan  sejumlah tanggapan terhadap serangan Rusia "yang tidak sepadan" terhadap Georgia setelah menuntut Moskow mentaati janjinya untuk menghentikan ofensif militer itu.
      
"Rusia harus menghentikan operasi-operasi militernya , sementara mereka tampaknya mengatakan mereka ingin melakukan itu, tetapi operasi-operasi militer itu dilakukan juga, sekarang harus dihentikan karena ketenangan perlu dipulihkan," kata Menlu AS Condoleeza Rice.
      
Rice mengatakan Presiden AS George W Bush memperingatkan agar aksi-aksi Moskow  telah merusak  reputasi Rusia di dunia. "Saya dapat memastikan bahwa reputasi Rusia dan  peran apa yang dapat dilakukan Rusia  di masyarakat internasional sangat dipertaruhkan  di sini," kata Rice kepada televisi ABC.
      
Para pejabat lainnya mempertanyakan usaha-usaha Rusia sekarang untuk bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) serta keanggotaannya dalam Kelompok Delapan negara industri (G-8) "Rusia jauh lebih banyak kerugian ketimbang yang dialami Uni Sovyet tahun 1968," kata Rice.

Sumber :
Ant