TBILISI, RABU - Rusia telah memerintahkan penghentian pertempuran di Georgia Selasa (12/8), 5 hari setelah dilangsungkannya serangan udara dan darat yang melumpuhkan perlawanan pasukan Georgia. Namun, Georgia menekankan pasukan Rusia masih melancarkan aksi pemboman dan penembakan.
Meskipun perintah penghentian pertempuran telah disampaikan oleh Presiden Rusia Dmitry Medvedev lewat televisi, pasukan Rusia masih menggencarkan serangan di Abkhazia dengan mengirimkan sejumlah tank, kendaraan tempur serta artileri ke wilayah yang dipertikaikan itu. Mayor Jenderal Anatoly Zaitsev, pejabat militer di Abkhazia, menerangkan pasukan Georgia telah dipaksa mundur dari wilayah pertahanan terakhir di provinsi separatis tersebut. Namun, keterangan penarikan pasukan Georgia tersebut tidak dapat segera dikonfirmasi.
Beberapa jam sebelum perintah pertempuran dikeluarkan, beberapa jet tempur Rusia membombardir lintasan jalan di kota Gori, dekat wilayah separatis South Ossetia. Kantor pos dan universitas Gori telah dibakar Selasa kemarin dan sebagian besar wilayah ini telah dikosongkan setelah sejumlah besar penduduk dan pasukan Georgia meninggalkan wilayah tersebut Senin (11/8) untuk menghindari diri dari serangan pasukan Rusia.
Dalam keterangannya di Moskwa, Medvevev menyatakan Georgia telah cukup menerima hukuman lewat serangan yang dilancarkan pasukan Rusia ke South Ossetia. Georgia melancarkan serangan Kamis (7/8) lalu untuk merebut provinsi yang dikuasai oleh pasukan separatis dan memiliki kedekatan hubungan dengan Rusia. "Pasukan Georgia telah menerima hukuman dan mengalami kekalahan besar. Militer Georgia telah dilumpuhkan," kata Medvedev.
Rusia menuduh Georgia telah menewaskan lebih dari 2.000 orang yang sebagian besar warga sipil di provinsi separatis South Ossetia. Laporan tersebut tidak dapat secara independen dikonfirmasi. Namun, beberapa saksi mata yang melarikan diri meninggalkan wilayah ini akhir pekan lalu melaporkan ratusan orang tewas dalam konflik bersenjata antara Rusia dan Georgia itu.
Puluhan ribu orang yang cemas akan keselamatan hidup mereka telah melarikan diri dari pertempuran. Warga South Ossetia melarikan diri ke arah utara atau Rusia, sementara warga Georgia melarikan diri ke ibukota Tbilisi dan arah timur menuju pantai Laut Hitam Georgia.

