Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 23:02 WIB
Rusia Akhiri Serangan, Warga Inggris Khawatir
Jimmy Hitipeuw | Selasa, 12 Agustus 2008 | 21:24 WIB
|
Share:

Uriel Sinai/Getty Images
Tank-tank tentara Georgia melakukan operasi di jalan-jalan Kota Gori, Senin (11/8). Perang antara Rusia dan Georgia pecah kembali setelah tentara Rusia menduduki South Ossetia, daerah yang masih diperebutkan selama ini.

MOSKWA, SELASA - Presiden Rusia Dmitry Medvedev telah mengumumkan diakhirinya operasi militer terhadap Georgia. Namun, beberapa pesawat tempur Rusia terus membombardir beberapa target di Georgia sehingga menewaskan seorang wartawan Belanda setelah pesawat tempur Rusia menyarangkan serangan bom ke sebuah pusat media di Gori yang didirikan di lantai atas pusat radio dan televisi kota tersebut. Serangan ini berlangsung saat sejumlah warga Inggris yang merasa cemas akan keselamatan diri mereka dievakuasi dari ibukota Georgia, Tbilisi.

Duta besar Inggris untuk Georgia Denis Keefe mendesak seluruh warga Inggris meninggalkan Georgia saat seluruh rute ke luar negara tersebut belum tertutup. Warga yang panik menumpuk persediaan pangan dan air saat beberapa laporan yang beredar mengindikasikan bahwa perjalanan darat maupun jembatan menuju Tbilisi telah diputus oleh pasukan Rusia. Presiden Georgia Mikhail Saakashvili menekankan negaranya tidak mengenal kata menyerah dan menuduh Moskwa telah melancarkan pembasmian etnik.

Krisis tersebut saat ini meluas saat pasukan pemberontak dukungan Rusia di Abkhazia, wilayah separatis kedua, melancarkan perlawanan baru dengan serangkaian serangan artileri untuk mengusir pasukan Georgia keluar dari  Abkhazia. "Georgia tidak akan pernah menyerah," tegas  Saakashvili dalam wawancaranya dengan jaringan televisi AS, CNN.

Pertempuran pecah akhir pekan lalu setelah Georgia mengirimkan pasukan ke South Ossetia. Intensitas pertempuran meningkat setelah pasukan Rusia Minggu (10/8) untuk pertama kali memasuki wilayah Georgia untuk merebut 2 kota strategis.

Presiden Perancis Nicolas Sarkozy dijadwalkan bertolak Selasa ini ke Moskow dan Tbilisi sebagai upaya untuk menciptakan gencatan senjata yang selama ini ditolak oleh Rusia. Para pemimpin Rusia, termasuk perdana menteri Vladimir Putin, balas menuduh Georgia melaksanakan genosida dalam serangan pekan lalu untuk merebut South Ossetia. Rusia juga menuduh Georgia menolak untuk tunduk pada tekanan internasional guna mencapai gencatan senjata.

Georgia yang berbatasan dengan Laut Hitam di antara Turki dan Rusia dipimpin oleh Moskwa selama hampir 2 abad hingga menjelang pecahnya Uni Soviet pada tahun 1991. Baik warga South Ossetia dan Abkhazia  telah mengelola wilayah mereka tanpa mendapatkan pengakuan internasional sejak berjuang memisahkan diri dari Georgia pada awal tahun 1990an. Baik South Ossetia dan  Abkhazia mempunyai keeratan hubungan dengan Moskwa.

Sumber :