MOSKOW, SELASA - Presiden Rusia Dmity Medvedev memerintahkan penghentian serangan ke wilayah Georgia, Selasa (12/8). Menurutnya serangan darat dan udara selama lima hari sudah cukup untuk menghukum Georgia atas serangannya ke Ossetia Selatan.
"Keamanan pasukan penjaga perdamaian kami dan penduduk sipil telah dipulihkan. Agresor sudah dihukum dan menderita kerugian besar. Militer mereka porak-poranda," kata Medvedev dalam pidato yang disiarkan televisi secara nasional.
Namun perintah penghentian serangan itu bukan berarti Rusia tidak akan menyerang lagi. Medvedev tetap memerintahkan pasukannya beraksi bila pasukan Georgia melawan. "Bila ada kantong-kantong perlawanan atau gerakan agresif, kalian harus menumpasnya," kata Medvedev.
Beberapa jam sebelum pidato Medvedev, militer Rusia membombardir kota Gori dan merangsek ke satu-satunya wilayah yang masih dikuasai militer Georgia di Abkhazia. Serangan itu dilakukan saat Presiden Prancis Nicolas Sarkozy terbang ke Moskow untuk menyampaikan tuntutan negara-negara barat agar Rusia mundur.
Menlu Rusia Sergey Lavrov mengatakan bahwa Presiden Georgia Mikhail Saakashvili harus mundur dan pasukan Georgia keluar secara permanen dari Ossetia Selatan. Sejak awal pendirian Moskow adalah tidak mau berunding dengan Saakashvili dan hal terbaik baginya adalah mundur.

