Jumat, 31 Oktober 2014

News / Megapolitan

Bayi Ajaib Dibanjiri Warga

Selasa, 12 Agustus 2008 | 08:47 WIB

JAKARTA, SELASA - Rumah orangtua Alifia Nailiun Najah (7 bulan) di RT 03/08 Rawabelong, Kelurahan Sukabumi Utara, Kebonjeruk, Jakarta Barat, dibanjiri pengunjung. Mereka penasaran ingin melihat bayi yang sudah diumumkan meninggal namun hidup lagi.

Sepanjang Senin rumah Alifia dibanjiri tamu yang ingin melihat dari dekat bayi "ajaib" tersebut. Alifia, anak pertama pasangan  Hendri-Buraidan menjadi pembicaraan setelah dikabarkan bangkit dari kematian. "Ajaib! Anak itu bisa tetap hidup meski sempat mengalami kondisi yang kritis," kata seorang pengunjung.

Kondisi Alifia lebih baik daripada saat meninggalkan Rumah Sakit Anak Bunda (RSAB) Harapan Kita, Minggu (10/8). Saat itu, Alifia dalam kondisi panas dan tidak bisa menelan makanan. Hanya saja, kemarin, Alifia masih mengalami gangguan pernapasan.

Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia yang juga praktisi kesehatan dr Marius Widjajarta mengatakan Alifia adalah bayi ajaib. Menurut dia, secara teori, harapan hidup seorang pasien yang telah dipasangi alat bantu pernapasan akan kecil jika alat bantu itu dicopot.

"Pada umumnya, orang yang telah dipasangi alat bantu pernapasan atau ventilator akan meninggal dunia dalam waktu tidak lama setelah alat bantu itu dicopot. Ini pengecualian dari banyak kasus yang telah terjadi," kata Marius yang diminta pendapatnya tentang fenomena Alifia, Senin malam.

Marius menegaskan, teori medis memang bisa dikalahkan oleh kuasa Tuhan. "Jika Tuhan berkehendak apa pun bisa terjadi. Mungkin ini adalah kasus yang pertama kali terjadi di Indonesia," katanya.

Sementara itu, pihak RSAB Harapan Kita tidak berkomentar mengenai penstiwa yang dialami Alifia. Ketika WartaKota berusaha menemui Kepala Bagian Pemasaran RSAB, Emon Juha yang diberi wewenang oleh pimpinan RSAB Harapan Kita untuk memberikan keterangan kepada pers, yang bersangkutan tidak bersedia ditemui.

Melalui stafnya, Emon mengatakan tidak bisa memberikan keterangan sebelum mendapat izin dari Direktur Utama RSAB Harapan Kita. Ketika WartaKota meminta izin bertemu Direktur Utama RSAB Harapan Kita, salah seorang stafnya mengatakan bahwa untuk bertemu direktur utama harus membuat pejanjian tertulis lebih dahulu.

Seperti diberitakan, bayi Afilia dibawa pulang oleh keluarganya dari ruang perwaan RSAB Harapan Kita, Slipi, Jakarta Barat, pada Minggu (10/8) siang setelah dirawat selama satu hari. Alifia yang menunjukkan gejala panas, kejang-kejang, dan gangguan pernapasan mengalami perawatan dengan dipasangi alat bantu pernapasan.

Keluarganya meminta Alifia dibawa pulang karena tidak punya biaya. Menurut H Hasim, kakek Alifia, saat Alifia masuk RSAB Harapan Kita, ia diminta membayar Rp 10 juta. "Saat itu, kami diminta untuk membayar uang muka Rp 10 juta. Demi kesembuhan cucu kami, saya pun mencari pinjaman untuk bayar uang muka tersebut," katanya.

Pada hari itu pula, Hasim harus mengeluarkan uang Rp 3 juta untuk menebus obat. Hasim dan keluarganya berkecil hati memikirkan jika Alifia tetap dirawat di rumah sakit itu karena mereka tak punya biaya. "Kami lalu meminta Alfia dibawa pulang saja," katanya.

Menurut Hasim, dokter dan perawat RSAB Harapan Kita melarang bayi perempuan berparas cantik dan lucu itu dibawa pulang karena kondisinya sangat kritis. Mereka juga mengingatkan, jika alat bantu pernapasan pada Alifia dicabut, bisa berdampak pada meninggalnya bayi perempuan itu.

Namun, Hasim dan keluarganya bertekad membawa Alifia pulang. Dalam perjalanan, mereka menduga Alifia telah berpulang ke Sang Khalik. Berita duka pun dikabarkan ke rumah mereka di Rawabelong. Para kerabat dan tetangga menyiapkan pemakaman dan memasang bendera kuning. Beberapa saat setelah tiba di rumah, Alifia sadarkan diri sehingga tersebarkah kabar bayi meninggal hidup lagi.

Kemarin, orang-orang yang datang diterima dengan baik oleh keluarga Alifia. Bahkan, keluarga itu juga bersedia menjelaskan perihal kejadian yang menimpa Alifia kepada para tetamu.

Hanya saja, para pengunjung cuma diizinkan melihat bayi "ajaib" itu dari balik kaca. Namun, kepada para wartawan, keluarga Afilia tak bersedia memberi keterangan. Keramaian dadakan di rumah keluarga Alifia ini dimanfaatkan sejumlah penjual makanan untuk meraup rupiah.

Alifla yang lahir 10 Februari 2008 merupakan anak pertama pasangan Hendri-Buraidah. Hendri tidak memiliki pekerjaan tetap. Pasangan itu tinggal bersama orangtua mereka, pasangan H Hasim-Dalilah, di Rawabelong. (Warta Kota/tos/yos)


Editor :
Sumber: