Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 05:11 WIB
Masih Banyak Orang Belum Nikmati Kemerdekaan
Heru Margianto | Senin, 11 Agustus 2008 | 12:06 WIB
|
Share:

JAKARTA, SENIN - Menteri Agama H Muhammad Maftuh Basyuni mengatakan hingga kini masih banyak orang belum menikmati kemerdekaan, akibat bangsa ini dilanda ancaman perpecahan,  dibelenggu kesesatan dan suburnya praktik korupsi.
       
"Reformasi yang diharapkan bisa mengubah keadaan bangsa untuk lebih  maju, ternyata berlangsung kebablasan karena dilaksanakan  seenaknya," kata Maftuh dihadapan peserta Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) seluruh Indonesia di kediaman pimpinan Perguruan Assyafiiyah, DR. Hj. Tuty Alawiyah, Jakarta, Senin (11/8).
         
Reformasi ternyata dimaknai dengan cara perubahan seenaknya. Yang seharusnya mengubah keadaan masa lalu menjadi lebih baik dan tetap mempertahankan nilai yang bagus, nyatanya dihancurkan.
    
"Kalau dulu mengritik presiden dilakukan secara hati- hati karena dianggap tabu, maka sekarang mencaci maki presiden bisa dilakukan dengan semaunya. Padahal ada nilai bahwa presiden adalah simbol negara yang harus dihormati," katanya.
         
Terkait dengan masih banyaknya orang yang hingga kini belum menikmati kemerdekaan, menurut Maftuh, selain karena masih kuatnya praktik KKN juga karena masih lemahnya kesatuan dan persatuan di kalangan bangsa ini.
        
Jika dahulu di Maluku ada budaya lokal saling menolong antarumat beragama dan etnis yang dikenal dengan sebutan pela gandong, maka malahan belakangan kebiasaan itu ini diabaikan. "Demikian juga kearifan lokal disetiap daerah bergeser," katanya.
        
Menteri Agama menjelaskan, bangsa ini sudah kehilangan domir (hati nurani). Karena itu,  ia mengingatkan semua pihak agar dapat melepaskan belenggu hawa napsu pribadi sehingga persatuan dan kesatuan dapat lebih dikedepankan dalam memecahkan persoalan bangsa.
         
Dicontohkannya, Vietnam yang dulu terbelakang dan banyak menghadapi masalah di dalam negeri, sekarang dalam pembangunan SDM sudah melampaui Indonesia. Juga Malaysia, dahulu mengimpor guru dari Indonesia tapi kini orang Indonesia belajar di negeri jiran itu, Maftuh mengatakan.
        
Hal ini pertanda adanya degradasi pada bangsa ini dan memerlukan perbaikan. Jika hal ini terus saja berlangsung, maka kemerdekaan hanya dapat dinikmati segelintir orang.

Sumber :
Ant