MATAHARI bersinar terik di pinggir pantai tak mengurangi canda tawa sekumpulan anak yang diantar orang tua mereka berwisata. Beberapa pasang remaja juga tampak mesra memadu kasih di tenda-tenda sepanjang pantai itu.
Di antara senyum bahagia yang merekah di wajah para pengunjung itu, tampak seorang pria tengah membersihkan sampah bungkus makan an dan minuman yang tercecer. Perawakan orang itu kecil dengan baju seragam kuning garis oranye membalut kulit legamnya yang terbakar matahari. Ia terlihat cekatan memunguti sampah dengan sapu dan serokan di jalan setapak sepanjang pantai Karnaval, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta.
Setelah terkumpul, sampah itu ia masukkan ke dalam tempat sampah yang tersedia di sekitar lokasi wisata itu. Sementara itu, beberapa pengunjung sudah mulai menepi mencari tempat teduh atau menyewa tenda. Siang itu memang terik karena matahari tepat di atas kepala. Pria berseragam kuning itu masih di tengah jalan setapak pinggir pantai memunguti sampah, sambil sesekali menyeka keringatnya.Ia mulai menepi saat sampah sudah terkumpul dan dibuang ke tempat sampah.
Seragam di punggungnya bertuliskan Petugas Kebersihan dan Perawatan Taman. Setelah sampai di rung ganti, ia bergerombol dan menyapa temannya sambil mengganti seragamnya yang basah karena keringat. Teman-temannya memanggil pria itu Dedi Mulyadi. Ia sudah bekerja sebagai petugas kebersihan di Ancol sejak tahun 1997. "Sekarang cari kerja sulit, meski lulusan SMU, saya kok dapet kerjanya ya tukang sapu," ujar Dedi saat ditemui Kompas.com seusai menyelesaikan pekerjaannya, Minggu (10/8).
Pria asal Pademangan, Jakarta Utara itu berkeluh kesah kalau pendidikan SMU yang didapatnya tidak bisa menjadi jaminan masa depan. "Tiap hari berangkat pukul 05.00 WIB jika masuk shift pagi hingga pukul 13.00 WIB, tapi dapetnya juga segitu-gitu juga," kata Dedi. Penghasilannya sehari hanya Rp 34.000 dan tanpa pekerjaan sampingan di luar tentu berat bagi bapak satu anak ini.
"Apalagi di sini, sistemnya kontrak per tahun, kalau saya sih sudah tinggal perpanjangan kontrak aja tiap tahun tapi kasihan temen lain yang baru masuk," tutur Dedi yang biasa mengayuh sepeda saat berangkat kerja ini.
Di tengah keluh kesahnya, ia sempat bercerita dengan penuh semangat saat beberapa kali ada pengunjung yang sekadar mengajak ngobrol. "Saya merasa dihargai gitu, tapi dulu ada juga yang pernah memberi saya Rp 20 ribu, itu sempet beberapa kali tapi jarang," jelasnya.
Ia mengaku tak pernah meminta, tetapi beberapa pengunjung ada yang memberi uang ala kadarnya. "Kalo emang rejeki ya saya gak nolak, apalagi saat sekarang, semuanya naik, kerasa banget susahnya. Bersyukurnya masih dapat kerja yang halal, karena manusia itu kan kalo dituruti ga ada cukupnya," tutur pria berkumis tipis itu.
'Bule' Afrika
Berbeda dengan Dedy yang tak punya pekerjaan sampingan, Kasmudi (31) selain bertugas membersihkan pantai, juga menjahit di rumahnya. Saat ditemui Kompas.com Minggu (10/8) siang, Kasmudi sedang berbenah barang akan pulang ke rumah karena shift kerjanya hingga pukul 13.00 WIB. "Ini memang kerja sampingan, kalau di rumah saya biasanya menjahit tas. Kerjaannya kan hanya setengah hari, tapi paling berat kalau hari Sabtu-Minggu karena ramai banget, sampahnya banyak," ujar Kasmudi.
Pria berkulit legam itu juga sempat bercanda dengan teman-temannya. "Ya gini ini, kalau hidup udah susah ya hati kita buat seneng, saya kan suka bercanda, kita suka ledek-ledekan, kalau dah lama di bawah terik matahari, ada yang nyeletukin saya 'bule' Afrika," kata pria lajang itu.
Dedi dan Kasmudi dikenal di kalangan temannya tak pernah mengeluh dan sangat loyal dengan pekerjaannya. Dua sosok penyapu pinggir pantai Ancol itu adalah wajah rakyat negeri ini yang harus berjuang demi sepiring nasi untuk bertahan hidup. Mereka menerima kenyataan hidup sebagai sebuah anugrah yang harus diterima dan disyukuri.

