BEIJING, MINGGU — Serangan tank dan pesawat Rusia yang menewaskan lebih dari 1.500 orang di Georgia membuat para atlet mereka yang kini berada di Beijing mengalami kecemasan luar biasa. Sebanyak 35 atlet Georgia di Beijing kini memilih tetap fokus pada pertandingan di China meski mereka tidak dapat berkonsentrasi penuh.
"Kami semua cemas. Mereka harus konsentrasi pada pertandingan, tapi itu sangat sulit," kata juru bicara tim Giorgi Tchanishvili.
Tchanishvili mengatakan, Minggu (10/8) pagi Presiden Georgia, Mikhail Saakashvili mengirimkan sebuah pesan kepada tim dan menyarankan agar para atlet tetap mengikuti turnamen. Tchanishvili menambahkan, tim siap meninggalkan China jika memang diperlukan.
Tchanishvili menyebutkan, ada dua atlet angkat besi Georgia, Albert Kuzilov dan Arsen Kasabiev, yang berasal dari Provinsi Ossetia Selatan yang ingin memisahkan diri dari Georgia. Meski demikian, Tchanishvili mengatakan tidak ada masalah apa pun dalam timnya. "Kami tetap bersama, kami semua," tegas Tchanishvili meski perang tersebut membuat kondisi mereka sulit.
Di Beijing, tim Georgia menginap tak jauh dari tempat penginapan atlet Rusia. Namun, mereka tetap menjalani aktivitas seperti biasa dan menganggap tidak ada masalah.
Anggota kedua tim bahkan saling sapa pada upacara pembukaan Olimpiade di Stadion Sarang Burung, Jumat (8/8). Tchanishvili mengatakan, "Kami tahu ini adalah Olimpiadem dan kami semua olahragawan menginginkan semua berjalan normal."
Juru bicara tim Rusia, Gennady Shvets juga sepakat dengan harapan tim Georgia. Shvets menyebutkan hubungan kedua tim berjalan normal.
Tetap berdamai
Sementara itu, Komite Olimpiade Internasional atau IOC bersama Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyesali perang di Georgia tersebut. Mereka juga meminta adanya "gencatan senjata" antaratlet di Olimpiade.
"Kami ingin mengatakan, 'Mari adakan gencatan senjata setidaknya untuk Olimpiade, dan kita bawa perdamaian di dunia setidaknya untuk dua pekan. Waktu tidak akan bertambah buruk. Perang tidak pernah baik, tapi perang di hari pertama Olimpiade adalah waktu yang sangat buruk," kata anggota IOC dari Amerika Serikat, Jim Easton.
Hal senada juga didukung oleh atlet voli pantai kelahiran Brasil yang membela Georgia, Cristine Santanna. "Olimpiade adalah waktu untuk berdamai. Aku melihat negara-negara menjalani kebersamaan. Aku sangat menyesali perang itu. Aku harap semua orang tetap berdamai, terutama selama Olimpiade," kata Santanna. (AP)

