JAVA, SABTU - Presiden Georgia Mikheil Saakashvili mengumumkan keadaan perang, Sabtu (9/8). Pada saat yang sama, pasukannya terlibat pertempuran dengan tentara Rusia di provinsi Ossetia Selatan yang memisahkan diri itu.
"Saya telah menandatangani keputusan mengenai keadaan perang . Georgia berada dalam keadaan agresi militer penuh," kata Saakashvili dalam satu pertemuan dewan keamanan nasionalnya yang disiarkan televisi.
Dikabarkan, jet-jet tempur Rusia mengebom dan menghancurkan sebuah pelabuhan penting Georgia dan menghantam sebuah kota lain. Sementara pemerintah Ossetia Selatan, yang didukung Moskow mengatakan 1.600 orang tewas di ibukota Tskhinvali saja.
Namun Kementerian Pertahanan Rusia membantah bahwa jet-jet tempurnya mengebom wilayah sipil, tetapi mereka membenarkan dua pesawatnya telah ditembak jatuh di daerah Georgia. Sebaliknya, Tbilisi mengatakan enam pesawat Rusia telah ditembak jatuh.
Georgia dan pemerintah di Ossetia Selatan saling mengklaim menguasai Tskhinvali sejak Jumat (8/8) pagi tetapi sehari kemudian, Rusia mengklaim berhasil membebaskan ibukota wilayah yang memisahkan diri itu setelah pasukan payung diterjunkan ke kota itu.
"Batalyon-batalyon taktis telah membebaskan sepenuhnya Tskhinvali dari militer Georgia," kata Jendral Vladimir Boldyrev , kepala pasukan darat Rusia , yang dikutip kantor-kantor berita Rusia.
Rusia mendukung pemerintah Ossetia Selatan dan mengirimkan tank-tank dan pasukan, Jumat untuk menanggapi operasi militer Georgia yang pro Barat itu untuk menguasai kembali provinsi yang memisahkan diri awal tahun 1990-an itu.
Pemerintah Ossetia Selatan mengatakan lebih dari 1.600 orang tewas. Pertempuran itu telah menimbulkan kekhawatiran internasional akan terjadi perang seperti tahun 1990 di wilayah Kaukausus yang kacau itu.

