CANBERRA, KAMIS - Australia boleh saja menyebut diri sebagai negara bebas, tetapi kalau sudah menyangkut masalah kerajaan Inggris urusannya jadi lain. Sebuah perusahaan bir akhirnya mencabut iklannya yang dianggap melecehkan kerajaan Inggris.
Iklan bir Coopers itu mengampanyekan perubahan bentuk negara menjadi republik. "Lupakan kerajaan, dukung publikan," kata iklan bergambar bir berbuih itu dengan mempelesetkan kata republik.
Anggota monarki terkemuka, Philip Benwell, Kamis (7/8), mengatakan perusahaan bir bermarkas di Adelaide itu menggunakan iklannya untuk menyampaikan pesan politik. "Mengapa iklan itu tidak dimulai saja dengan: 'Lupakan Republik'?" kata Benwell, ketua Liga Monarki Australia.
"Kita bisa menganggap banyak hal sebagai humor, tetapi yang satu ini kami rasa keterlaluan dengan pernyataan politiknya, jadi kami ajukan protes resmi," ujarnya.
Pekan lalu Benwell memprotes pabrik bir itu dan badan pengawas periklanan. Namun badan pengawas itu belum memberikan jawaban. "Banyak anggota kami yang memprotes ke Coopers dan banyak di antara mereka yang minum Coopers. Lalu Coopers menurunkan papan iklan itu," tambahnya.
Direktur Eksekutif Coopers Glenn Cooper menulis surat ke Benwell pekan lalu dan mengatakan bahwa papan iklan itu sudah diturunkan dan pihaknya meminta maaf secara resmi atas ketidaknyamanan yang disebabkan iklan itu.
"Bukan maksud kami untuk menyerang monarki atau apa pun, itu bukan pernyataan politik. Saya paham dengan pandangan anda dan kami pastikan bahwa tiap individu di perusahaan kami punya beragam pandangan tentang monarki," tulis Cooper dalam suratnya.
Perdebatan soal perlunya Australia punya presiden untuk menggantikan wakil kerajaan Inggris sebagai kepala negara sudah berlangsung selama seabad. Perdebatan itu memuncak pada referendum 1999 yang dimenangi secara mutlak oleh pendukung monarki.
Perdebatan itu muncul lagi November lalu dengan terpilihnya Kevin Rudd, seorang republikan, sebagai perdana menteri. Pendahulunya, John Howard, adalah pendukung setia monarki yang dianggap sebagai biang kegagalan kaum republikan dalam referendum 1999 itu.
Konsultan komunikasi dan pengamat periklanan, Jane Caro, mengatakan bahwa kaum meresa terhina karena tidak punya selera humor. "Setiap orang yang tidak punya selera humor akan menganggap sesuatu yang sangat lucu keterlaluan. Menurut saya, justru kaum bangsawan itu lah yang harus minta maaf karena membuat dunia sedikit lebih tolol," kata Caro.
