PALEMBANG, RABU - Kabut asap tipis menyelimuti Palembang selama beberapa jam sejak dua hari terakhir. Kabut asap tersebut berasal dari lokasi kebakaran lahan di Kecamatan Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan yang tertiup angin ke Palembang.
Kabut asap tampak cukup tebal pada hari Selasa malam. Bau asap yang ditimbulkan juga sedikit mengganggu pernapasan meskipun tidak mengganggu jarak pandang. Pada hari Rabu (6/8) bau asap mulai tercium pada sore hari.
Menurut GIS Remote Sensing Specialist dari South Sumatera Forest Fire Management Project (SSFFMP), Solichin, kebakaran lahan di Pampangan sudah terjadi selama empat hari. Lokasi kebakaran lahan di Pampangan terletak di lahan gambut namun masih di pinggir kawasan hutan.
"Kabut asap yang menyelimuti Palembang merupakan asap kiriman dari Pampangan. Kalau angin bertiup ke tenggara pasti asap terbawa ke Palembang," kata Solichin.
Solichin mengatakan, musim kemarau tahun ini perlu diwaspadai karena cenderung lebih kering dibandingkan tahun 2007. Kemungkinan terjadi kebakaran lahan di Sumsel akan lebih besar.
Kepala Seksi Kebakaran Hutan Dinas Kehutanan Sumsel Achmad Taufik mengutarakan, jumlah titik panas di Sumsel pada hari Rabu hanya dua yaitu di Kabupaten Ogan Komering Ilir. Padahal pada hari Selasa terpantau ada 16 titik panas.
"Penyebab kabut asap di Palembang belum diketahui pasti, tetapi diduga akibat meningkatnya aktivitas petani yang mulai membuka lahan dengan cara membakar," ujar Taufik.
Kepala Stasiun Klimatologi BMG Kenten, Palembang M Irdam mengatakan, kabut yang menyelimuti Palembang bisa berasal dari kabut asap dan kabut radiasi uap air. Kabut radiasi tersebut mengurangi jarak pandang sampai kurang dari 2.000 meter sehingga mengganggu penerbangan.
"Indeks kekeringan di Sumsel sudah tinggi, saat ini mencapai lebih dari 1.500. Curah hujan pada bulan Juli masih di atas normal yaitu 162 milimeter, sedangkan curah hujan bulan Agustus dua milimeter," kata Irdam.

