MOJOKERTO, SELASA - Tidak kurang 6,2 hektare lahan di situs purbakala Trowulan, Mojokerto yang menjadi pusat peninggalan arkeologi Kerajaan Majapahit harus rusak setiap tahunnya. Kerusakan itu terutama dipicu oleh industri pembuatan batu bata yang banyak dilakukan oleh masyarakat di sekitar lokasi situs Trowulan.
Besarnya luasan lahan yang rusak itu disarikan dari hasil penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Puslitbang Budpar). Dari pengamatan di lapangan, jumlah luasan lahan di situs Trowulan yang rusak bisa bertambah setiap tahunnya mengingat geliat industri pembuatan batu bata yang marak.
Lahan yang rusak karena diambil tanahnya sebagai bahan baku pembuat batu bata itu sangat mengancam keberadaan situs arkeologis di tempat tersebut. Apalagi, hingga kini lokasi pusat kerajaan atau kedaton Majapahit yang diperkirakan berada di situs Trowulan.
