Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 04:32 WIB
Naik Satu Persen, Konsumen Makin Berbeban
Josephus Primus | Selasa, 5 Agustus 2008 | 16:13 WIB
|
Share:

JAKARTA, SELASA - Kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) hingga satu persen saja membuat konsumen perumahan makin berbeban. Menurut Teguh Satria, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) kenaikan ini membuat angsuran pembayaran ikut terdongkrak.

Kalangan pengembang properti, lanjut Teguh, memang sudah memprediksikan kenaikan BI Rate mencapai 9 persen atau menguat 0,25 basis poin.  "Kami memprediksikan kenaikan akan terus berlangsung sampai di posisi maksimal 9,5 persen berdasarkan perkiraan inflasi 11,5 persen pada akhir tahun 2008," katanya di Jakarta, Selasa (5/8).   

Teguh mengharapkan, perbankan tidak membebankan kenaikan bunga KPR (Kredit Pemilikan Rumah) ataupun KPA (Kredit Pemilikan Apartemen) yang sedang berjalan. Akan tetapi, kenaikan itu dikenakan kepada debitur baru agar jangan sampai menimbulkan kredit macet.
   
Teguh sendiri optimistis pengaruh di sektor properti sifatnya hanya sementara. Berdasarkan asumsi BI Rate paling tinggi hanya sampai 9,5 persen, pasar properti akan menyesuaikan sendiri secara bertahap sampai dengan akhir September 2008.
  
"Pengaruhnya hanya akan dirasakan sampai September, secara berangsur-angsur pasar properti akan kembali pulih sampai dengan akhir tahun 2008, serta memasuki 2009 akan kembali tumbuh pesat," ujar dia.
  
Menurut dia, pengembang akan terpengaruh dari naiknya bunga konstruksi. Tetapi, bunga jenis ini tidak terlalu berat dibandingkan KPR karena berjangka pendek. Sebaliknya dengan KPR/ KPA yang rata-rata berjangka panjang 10 - 15 tahun.
  
Teguh mengatakan, kenaikan BI Rate saat ini lebih dipengaruhi kebijakan pemerintah untuk menahan inflasi akibat kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu serta sifatnya hanya sesaat sampai inflasi dapat dikendalikan.
   
Teguh memperkirakan tingkat bunga KPR/ KPA tetap akan stabil sampai dengan akhir tahun 2008 sepanjang tidak ada lonjakan-lonjakan inflasi seperti saat ini yang dipengaruhi kenaikan BBM.
  
Teguh juga menyampaikan, masyarakat biasanya akan terpengaruh dengan kenaikan bunga KPR/ KPA begitu hitungan mereka tidak masuk. Maka, yang terjadi masyarakat membatalkan transaksi yang membuat pasar turun.

 

Sumber :
Ant