GORONTALO, SENIN - Keluarga korban pesawat AdamAir di perairan Majene, Sulawesi Barat, 1 Januari 2007 lalu, sangat menyesalkan penayangan rekaman pembicaraan pilot dan kopilot menjelang pesawat jatuh ke laut.
Muzlina Said—istri Bram Tangahu, korban pesawat AdamAir—Senin (4/8), mengatakan, dia sangat menyesalkan rekaman pembicaraan yang begitu bebas di internet, bahkan di media.
Menurut dia, saat kotak hitam ditemukan beberapa bulan lalu, pemerintah telah mengumumkan bahwa percakapan antara pilot dan kopilot pesawat tidak jelas, tapi anehnya yang saat ini beredar di media dan internet begitu jelas.
Dia mengatakan, pemerintah harus bertindak tegas terhadap adanya penayangan musibah jatuhnya pesawat tersebut sehingga akan jelas bagi keluarga korban apakah gambar tersebut adalah kejadian yang benar. Selain itu, adanya penayangan yang dilakukan oleh berbagai media, khususnya elektronik, di sisi lain ada manfaatnya untuk membuka tabir tentang simpang siurnya musibah jatuhnya pesawat naas tersebut.
Namun, penayangan tersebut bisa menimbulkan efek negatif bagi keluarga korban, sebab akan membuka luka dan kesedihan yang saat ini mulai dapat diredam. "Kami minta pemerintah untuk bertindak bijaksana tentang kejelasan dari jatuhnya pesawat tersebut," kata Muzlina.
Dia mengatakan, kalau memang penayangan tersebut merupakan kejadian yang sebenarnya pemerintah harus mengakuinya, tetapi jika itu merupakan rekayasa dari oknum tertentu harus ditindak tegas.
Sementara itu, mengenai penayangan gambar jatuhnya AdamAir di Majene, Sulawesi Barat, yang dilakukan sejumlah media elektronik selama empat hari berturut-turut terus mendapat tanggapan dari masyarakat di daerah Gorontalo. Sejumlah warga mengatakan, dengan adanya penayangan tersebut, makin menunjukkan ketidakmampuan dunia penerbangan dalam menangani setiap persoalan seperti jatuhnya pesawat.
