Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 04:31 WIB
Suhu Politik di Kota Kediri Mulai Memanas
Runik Sri Astuti | Jumat, 1 Agustus 2008 | 19:42 WIB
|
Share:

KEDIRI, JUMAT - Menjelang pemilihan Wali Kota Kediri periode 2009-2014, suhu politik di Kota Tahu ini mulai memanas. Ajang penjaringan bakal calon yang digelar Partai Golongan Karya di Kantor Dewan Pimpinan Daerah II Kota Kediri, Jawa Timur, Jumat (1/8) diwarnai unjuk rasa ratusan pengurus partai.

Massa memprotes konvensi yang digelar secara tertutup dan tidak melibatkan pengurus di tingkat kelurahan dan pengurus di tingkat kecamatan serta pengurus organisasi pemuda maupun organisasi kemasyarakat di bawah binaan Partai Golkar.

Dalam pernyataan sikap yang dibacakan oleh koordinator Rubai, massa mengancam akan mengundurkan diri dari kepengurusan partai. Mereka juga menyatakan tidak akan mendukung calon yang diajukan oleh partainya sendiri.

Unjuk rasa massa tersebut tidak mengganggu konvensi Partai Golkar. Puluhan personel polisi dari Polresta Kediri dan satuan tugas pengamanan dari Partai Golkar dikerahkan berjaga di depan pintu gerbang kantor.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar DPD I Jawa Timur, Gatot Soetjito mengatakan pihaknya bisa memahami protes yang dilakukan oleh para fungsionaris partainya dan menganggap hal itu sebagai bagian dari proses demokratisasi.

Akan tetapi pihaknya tidak bisa berbuat banyak, karena kapasitas ruangan rapat memang terbatas. Selain itu berdasarkan ketentuan organisasi yakni Juklak O5 Partai Golkar tentang rapat tim pilkada, peserta rapat meliputi unsur pimpinan kecamatan, Hasta Karya, DPD II, DPD I dan DPP. Unsur pimpinan kelurahan tidak termasuk dalam peserta rapat.

Ada empat bakal calon yang digodok dalam konvensi dimana keempatnya adalah fungsionaris partai yakni Taman Moestofa (Ketua DPD Partai Golkar Kota Kediri), Martanty Soenar Dewi (Pengurus DPW Partai Golkar Jatim), Heru Ansori dan Heru Marwanto (Pengurus DPD Partai Golkar Kota Kediri).

Dari hasil voting, keluar sebagai pemenang, Tamam Moestofa yang berhasil mengantongi 62 persen suara, disusul kemudian oleh Martanty dengan mengantongi 31 persen suara, Heru Ansori sebanyak 6,6 persen suara dan Heru Marwanto sebanyak 1,1 persen suara. Siapa yang menjadi calon wakil Taman, belum diputuskan.

Sementara itu pada saat yang sama di Gedung Nasional Indonesia, Partai Kebangkitan Bangsa Dewan Pengurus Cabang Kota Kediri menggelar Musyawarah Kebangkitan Dan Uji Publik untuk menjaring bakal calon Wali Kota Kediri.

Dari lima pendaftar bakal calon wali kota yang dinyatakan lulus seleksi administrasi hanya dua orang yakni M Zaini dan Muhaimin. Ketua DPC PKB Kota Kediri, Zen Fanani mengatakan untuk pemilihan wakil wali kota tidak memerlukan uji publik. Wakil wali kota akan dipilih dari tiga pendaftar yang tidak lulus seleksi administrasi.(NIK)

Pilkada Kota Kediri akan diselenggarakan 23 Oktober 2008. Mulai tanggal 31 Juli sampai 6 Agustus 2008 adalah masa pengembalian formulir pendaftaran calon dari jalur independen dan partai politik.

Hingga kemarin baru Partai Golkar yang sudah memutuskan calonnya. Sedangkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan PKB belum memutuskan calonnya.

Adapun dari jalur independen sudah ada tiga pasangan calon yakni Syaiful Muslimin (Asisten III Sekda Kota Kediri) dan Farid Ma ruf, Kasmuji (anggota DPRD Kota Kediri) dan Choirul Anam, serta Machrus Noegroho (Kepala Dinas Pasar Kota Kediri).