Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 03:57 WIB
Egoisme Picu Konflik
Suhartono | Selasa, 29 Juli 2008 | 20:49 WIB
|
Share:

JAKARTA, SELASA - Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla menyatakan rasa egoisme dan ketidakadilan di antara umat manusia, tak hanya memicu konflik antarumat manusia itu sendiri, akan tetapi juga konflik antarumat beragama dan konflik antara umat dengan negara.

Konflik-konflik yang terjadi, akan semakin sulit diselesaikan apabila konflik tersebut telah dibumbui dengan solidaritas keagamaan. Demikian diungkapkan Wapres Kalla saat menerima peserta International Conference of Islamic Scholars (ICIS) di Gedung II Istana Wapres, Jakarta, Selasa (29/7) malam.

Hadir dalam acara itu Utusan Khusus Pesiden untuk Negara-Negara Timur Tengah Alwi Shihab, Ketua Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) Hasyim Muzadi dan Ketua Panitia Penyelenggara ICIS Prof Dr Masykuri Abdillah.

Pertemuan ulama dan cendekiawan Islam yang ketiga ini, direncanakan akan dihadiri 63 negara seperti antara lain Iran, Arab Saudi, Libanon, Syria, Sudan, Mesir, Qatar dan Turki. Ulama dan cendekiawan yang hadir di antaranya Penasehat Presiden Iran AZbdullah Al-Taskiri, Ulama Syria Prof Dr Wahbah Hazuhaeli, Ulama asal Arab Saudi yang kini tinggal di Amerika Serikat Hisyam Al-Kabahni serta Ulama Libanon Dr Abdullah Toriq.

"Inti dari konflik apapun yang terjadi selama ini adalah ketidakadilan dan rasa egoisme di antara kita. Kadang-kadang untuk mempercepat konflik, terjadinya pemihakan pada pihak-pihak yang berkonflik dengan adanya solidaritas agama sehingga semakin mempersulit selesainya konflik," ujar Wapres Kalla, yang diterjemahkan ke bahasa Arab oleh Alwi Shihab.

Menurut Wapres Kalla, sumber konflik yang berawal dari ketidakadilan yang memicu munculnya rasa ketidakpuasan, bisa terjadi dari berbagai sektor, seperti bidang ekonomi dan pendidikan. "Gap ekonomi yang terjadi di antara negara-negara Islam juga dapat memunculkan rasa ketidakpuasan sehingga memudahkan terjadinya konflik," tambah Wapres Kalla.

Kesenjangan di bidang pendidikan, lanjut Wapres Kalla juga dapat mendorong terjadinya konflik. "Apabila pendidikan yang diterima tidak seimbang dan terjadi perbedaan yang jauh, generasi umat beragama seperti Islam, sangat mudah dipengaruhi oleh berbagai pandangan yang keliru sehingga membuka gap yang lebar untuk memudahkan terjadinyan konflik,"demikian Wapres.

Diharapkan Wapres Kalla, pertemuan ulama dan cendekiawan Islam ini dapat membahas faktor-faktor penyebab terjadinya konflik, khususnya antar umat manusia dan umat beragama sehingga dapat dicarikan solusi penyelesaiannya.