Selasa, 2 September 2014

News / Regional

Kerumunan Orang Menyusahkan Tetangga Orangtua Ryan

Minggu, 27 Juli 2008 | 08:38 WIB

JAKARTA, MINGGU - Ribuan orang dari Jombang, Nganjuk, Mojokerto, Kediri, dan Lamongan masih terus berdatangan ke rumah orangtua Ryan (30) di Tembelang, Jombang, Jawa Timur. Meski bagi pedagang memberikan rezeki, kedatangan mereka membuat tetangga sekitar rumah orangtua Ryan mulai terganggu.

Sunarsih (40) sudah satu minggu terakhir berhenti dari aktivitasnya menjadi penjahit. Halaman depan rumahnya di Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang dipenuhi para pedagang sejak beberapa hari terakhir .

Pedagang-pedagang itu tengah mengais untung dari ramainya pengunjung ke rumah orangtua Very Idam Henyansyah alias Ryan. Sekalipun sekeliling rumah sudah dipasangi police line berwarna kuning dan dipagari pula dengan jalinan pagar bambu, ratusan pengunjung yang penasaran masih terus bias merangsek masuk.

"Saya tidak bisa bekerja, anak-anak saya juga tidak bisa belajar karena situasinya sangat ramai. Lha, pedagang-pedagang yang datang dari berbagai tempat itu juga hanya sekedar permisi untuk berjualan di halaman saya tanpa kasih apa-apa," ujar Sunarsih.

Karena itulah, atas desakan keluarganya, Sunarsih beralih jadi penjual kopi, dawet, the, singkong rebus, dan aneka makanan ringan. "Masak yang jualan orang dari luar, kita dapat sampahnya saja," ujar Sunarsih.

Keluhan serupa datang dari Slamet (51) dan Muchlison (35) yang akhirnya memilih untuk menyewakan lahan parkir bagi ratusan sepeda motor yang datang setiap harinya. Kalau dihitung dengan pendapatan sekitar Rp 400 ribu per hari yang dibagi untuk 15 orang jelas kami rugi. Karena kalau kami bekerja pada hari biasa dapatnya lebih, sekarang kami tidak bisa bekerja karena ramai begini, kata Muchlison yang sehari-hari menjalankan bisnis kerupuk yang untuk sementara harus berhenti.

Di sekitar lokasi rumah orang tua Ryan, terdapat lima titik lahan parkir sepeda motor, dengan tarif Rp 2.00 0 sekali parkir. Belum lagi kotornya karena sampah. Bagi saya, ini jelas rugi. Saya ingin hal ini cepat-cepat selesai, imbuh Slamet.

Sejumlah warga lain yang rumahnya sangat ber dekatan dengan rumah orangtua Ryan juga mesti bekerja ekstra keras membersihkan sampah-sampah yang berserakan. Itu masih ditambah dengan sejumlah grafitti berbahan saos tomat yang kerap muncul di sejumlah tembok warga.

Jalan Melati di Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang yang membujur dari timur ke barat sepanjang 1,3 kilometer dalam satu minggu ini memang berubah bak karnaval. Pusat kegiatan ada di sekitar 200 meter dari ujung Jalan Melati sisi timur yang jadi lokasi rumah orangtua Ryan.

Mulai tukang es krim, bakso, martabak, es kelapa, mainan anak-anak, kacang rebus, tukang buah, lokasi parkir, hingga loper k oran hilir mudik di lokasi itu. Jumlahnya puluhan, dan sebagian besar menempati begitu saja halaman depan rumah-rumah warga Dusun Maijo, Desa Jatiwates, tanpa kompensasi apapun pada para pemilik pekarangan tersebut.

Aktivitas pun masih terjadi tatkala penunjuk waktu mendekati tengah malam. Kegiatan baru benar-benar berhenti saat menjelang subuh, untuk berdenyut lagi mulai pukul enam pagi

Pengunjung ke lokasi itu datang dari sejumlah daerah, seperti Nganjuk, Mojokerto, Kediri, Jombang, dan sejumlah daerah lainnya. Ada yang data ng berduaan dengan pasangannya, dengan keluarga dan membawa serta anak-anak, hingga yang datang menuntaskan rasa penasarannya sendirian. Bahkan, anak-anak sekolah dengan seragam lengkap pun bergerombol di ujung-ujung jalan.

"Saya tahu saat sedang ngopi di sebuah warung. Langsung saja saya kesini," kata Sutaman (60) yang tinggal di wilayah Kecamatan Kesamben, Jombang.

Bagi kalangan pedagang asal luar desa itu, lokasi tersebut setara dengan berkah dua kali lipat. Arifin (45) yang asal Kecamatan Peterongan, Jombang sehari-hari hanya mendapatkan Rp 30 ribu dalam sehari jika menjajakan es kelapa yang dijualnya secara berkeliling.

Namun, di lokasi itu, Arifin yang menghargai satu plastik es kelapanya Rp 1.000, cukup duduk manis dan sedikitnya Rp 50 ribu datang padanya dalam sehari.

Lahuri (67) yang menjajakan mainan anak- anak di lokasi itu langsung beroleh Rp 150 ribu saat penggalian empat mayat yang diduga korban Ryan dilakukan, Senin (21/7). Padahal, Lahuri biasanya hanya mendapat uang Rp 40 ribu saat berkeliling di hari biasa.

Juga Mbok Samah (60), yang berjualan kacang rebus, buah melinjo rebus, dan penganan tradisional lain yang sumringah dengan omzet hingga Rp 50 ribu dalam sehari. Padahal, di tempat mangkalnya yang lama di Kecamatan Kesamben, Jombang, dagangan Mbok Samah rata-rata hanya beromzet Rp 30 ribu dalam sehari.

Sunarsih yang masih canggung beralih ke profesi barunya sebagai pedagang, sesekali melirik ke arah pedagang-pedagang yang memenuhi pekarangan rumahnya. Yah, kita kalau dikasih (uang sewa) ya diterima. Tidak dikasih juga tidak apa-apa, namanya orang mencari rezeki, kata Sunarsih lirih.


Editor :
Sumber: