Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 20:16 WIB
Penumpang Qantas Berpikir Akan Meninggal
| Minggu, 27 Juli 2008 | 07:24 WIB
|
Share:

MANILA, SABTU - Sekitar 365 penumpang dan awak pesawat Qantas sudah punya pikiran akan meninggal. Para ahli juga mengatakan, penumpang tergolong sangat mujur karena selamat. Bisa dikatakan, badan pesawat yang sudah retak di udara akan sulit mendarat dengan sukses. Demikian dikatakan para ahli penerbangan, Sabtu (26/7) di Manila, Filipina.

"Mereka sangat beruntung," kata sebuah sumber yang tidak mau disebutkan namanya kepada AFP.

Para ahli memastikan badan pesawat Qantas dengan nomor penerbangan QF30 memang retak. Penyebabnya belum diketahui pasti. Namun, ada beberapa dugaan yang muncul, yakni faktor ledakan dan badan pesawat yang keropos karena karatan.

Para penumpang sudah tiba di Melbourne, Australia, pada hari Sabtu dengan menggunakan pesawat pengganti. Mereka disambut sanak saudara, rekan, dan kerabat seperti menjemput orang yang luput dari maut.

Penumpang berada di atas Laut China Selatan pada ketinggian 29.000 kaki dalam perjalanan ke Melbourne dari Hongkong, saat bunyi ledakan besar terjadi. Awak pesawat kemudian memutuskan mendarat darurat di Manila, Jumat, setelah terjadi retak yang memunculkan lubang sekitar 3 meter di badan pesawat.

Mereka masih merasakan keterkejutan saat pesawat mendadak jatuh drastis setinggi 20.000 kaki (6.000 meter atau 6 kilometer di udara) sebelum badan pesawat kembali stabil.

Steve Winchester, salah seorang penumpang, mengatakan, ia sudah berpikir maut akan menjemputnya. Setiap orang hanya berpikir soal diri sendiri. "Oh, inilah saatnya," katanya. "Saya mendengar jeritan dari beberapa orang. Penumpang saling menoleh dalam situasi tercekam di dalam kengerian."

Retakan badan pesawat juga mengakibatkan terjadinya sebuah lubang di lantai kabin dan serpihan retakan beterbangan memasuki ruang penumpang. "Serpihan beterbangan dan di dalam ruang penumpang seperti ada salju-salju beterbangan," kata Winchester.

David Saunders, pria asal Melbourne, mengatakan, ia memeluk erat pacarnya dan memasukkan paspor ke kantong supaya jika ia meninggal jasadnya akan mudah dikenali seandainya terbenam di dalam laut.

"Saya mendengar ledakan dahsyat, lalu suasana mendadak senyap. Kabin langsung kehilangan tekanan dan pesawat langsung menyungsep. Saya juga berpikiran kami semua akan terbenam ke dalam lautan," katanya.

Karatan

Penyelidik di Manila, termasuk empat petugas dari Biro Keselamatan Transportasi Australia (Australian Transport Safety Bureau), mulai menyelidiki penyebab retakan badan pesawat.

Harian Daily Telegraph di Sydney edisi Sabtu memberitakan, teknisi pernah menemukan badan pesawat yang karatan saat terjadi pembersihan badan pesawat pada awal 2008. Harian tersebut menyebutkan, pesawat berusia 17 tahun itu sudah diperbaiki pada Maret 2008 di Bandara Avalon, Melbourne. Namun, saat itu teknisi menemukan tumpukan karat di badan pesawat.

Seorang pilot senior Qantas kepada Daily Telegraph menyebutkan bahwa drama Jumat itu mungkin terkait dengan keputusan Qantas untuk mengontrakkan perawatan pesawat ke sebuah perusahaan di Malaysia.

Ini adalah hasil dari keputusan Qantas akan mempertahankan teknisi sendiri atau menggunakan teknisi pihak Malaysia. "Ini sudah menjadi bahan pembicaraan di Qantas dan kami sudah diberi tahu agar selalu lebih hati-hati soal perawatan pesawat. Dengan menggunakan tenaga luar, banyak pilot Qantas yang mulai khawatir soal keselamatan pesawat," kata sumber itu.

Pesawat jenis Boeing 747-400 itu terbang dari London, Inggris, Kamis, dan transit di Hongkong sebelum lanjut ke Melbourne. Qantas memiliki catatan keamanan yang baik dan tidak pernah kehilangan pesawat akibat kecelakaan.

"Terlalu dini mengatakan penyebab terjadinya lubang. Kami melihat dua kemungkinan penyebabnya, ledakan dari dalam sebuah bagasi dan satu lagi badan pesawat mungkin sudah kehilangan daya tahan," kata sumber itu.

Sumber lain mengatakan, kemungkinan daya tahan pesawat yang sudah keropos adalah penyebab retakan dan kemudian menimbulkan ledakan.

Manajer Umum Bandara Internasional Manila Alfonso Cusi juga mengatakan tidak yakin lubang itu terbentuk karena ledakan bom.

"Petugas kami sudah melihat ke dalam badan pesawat dan tidak melihat faktor ledakan bom. Kami kira ada masalah teknis dengan pesawat," katanya.

Pemimpin utama Qantas, Geoff Dixon, membantah ada karatan di pesawat. Dixon juga mengatakan amat terkejut melihat keadaan pesawat di Manila. Namun, ia mengatakan, Qantas amat peduli soal keselamatan dan perawatan pesawat.

Dixon mengatakan, tidak ada karat ditemukan di bagian badan pesawat. Ia memuji sikap kesatria 19 awak pesawat karena tetap tenang saat melakukan pendaratan darurat. (REUTERS/AP/AFP/MON)

Sumber :
Kompas