Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 23:12 WIB
Kisah Tragis Kontingen "Negeri 1001 Malam"
Tomy Trinugroho A | Minggu, 27 Juli 2008 | 05:48 WIB
|
Share:

Nasib buruk tak habis-habisnya menghampiri bangsa Irak. Negeri yang porak-poranda sejak lima tahun lalu itu terancam tak bisa mengikuti Olimpiade 2008 di Beijing. Situasi ini menjadi masalah besar bagi mereka. o

Sejak diduduki kekuatan asing dan dihajar kekerasan sektarian tak berkesudahan, Irak nyaris tak memiliki apa pun yang bisa dibanggakan di tengah komunitas internasional. Satu-satunya bidang kehidupan yang masih bisa diandalkan adalah olahraga.

Unjuk eksistensi paling penting dilakukan Irak pada Piala Asia 2007. Kala itu tim sepak bola mereka menggondol gelar juara dengan mengalahkan tim unggulan, Arab Saudi.

Prestasi itu membuat pertikaian sektarian terlupakan sementara. Semangat persatuan menjadi jauh lebih dominan. Ratusan warga Syiah, Kurdi, dan Suni di negara itu berpesta bersama di pinggir jalan merayakan sukses tim sepak bola Irak.

Pentingnya olahraga bagi bangsa Irak membuat Komite Olimpiade Internasional (IOC) dan Amerika Serikat membantu mempersiapkan tujuh atlet Irak untuk ikut Olimpiade 2008. Mereka terdiri atas dua atlet rowing, seorang lifter, seorang sprinter, seorang atlet lempar cakram, seorang pejudo, dan seorang pemanah.

Namun, harapan bangsa Irak menyaksikan atlet mereka berlaga pada Olimpiade 2008 memudar pada Kamis (24/7). IOC melarang mereka tampil di Beijing karena Komite Olimpiade Nasional (NOC) Irak dibekukan. ”Kami diinformasikan keputusan final IOC membekukan keanggotaan NOC Irak. Ini pukulan bagi atlet Irak dan kaum mudanya,” ujar Sekretaris Jenderal NOC Irak Hussein Al-Amidi.

”Kami sudah mengirim surat kepada Pemerintah Irak. Isinya berkaitan dengan situasi terakhir tak mungkin bagi atlet Irak berlaga di Beijing,” ujar juru bicara IOC, Emmanuelle Moreau.

Keputusan IOC tak datang tiba-tiba. Sejak Mei mereka sudah membekukan NOC Irak. Namun, keputusan bisa berubah jika Pemerintah Irak menghidupkan kembali NOC Irak yang lama.

Hingga Kamis, IOC tak melihat kesediaan Pemerintah Irak menghidupkan NOC Irak lama. Tanpa pikir panjang, mereka menegaskan, atlet Irak tak bisa berlaga di Olimpiade. ”Batas akhir kepastian keikutsertaan atlet sampai akhir Juli. Jika Pemerintah Irak berhenti melakukan interfensi, pembekuan NOC Irak dicabut,” kata Moreau.

Jadi, harapan atlet Irak tampil di Olimpiade masih terbuka walau sangat kecil, asalkan Pemerintah Irak mau menghidupkan kembali NOC Irak lama. Langkah IOC mengumumkan atlet Irak tak bisa mengikuti Olimpiade seperti melemparkan ”bola panas” kepada pemerintah negara itu.

Pemerintah Irak membubarkan NOC karena organisasi ini dinilai sudah tak sah lagi. Pemimpin mereka, misalnya, diculik dan sudah hilang bertahun-tahun. Bagi IOC, intervensi pemerintah terhadap NOC adalah dosa besar karena menyalahi Piagam Olimpik. Perundingan intensif kini dilakukan IOC dengan Irak, dibantu China dan Jerman.

Bagi atlet Irak, situasi yang terjadi sungguh mengecewakan. ”Saya telah berlatih sangat keras untuk meraih emas dan mengibarkan bendera Irak, tetapi mimpi itu sekarang pupus,” ujar Swara Mohammed Berbal, lifter Irak. (AP/ATO)