Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 22:47 WIB
Aktivis Perdamaian Palestina Luncurkan Buku
| Rabu, 23 Juli 2008 | 14:14 WIB
|
Share:

JAKARTA, RABU -  Penerbit Mizan meluncurkan buku Hebron Journal karya seorang aktivis Christian Peacemaker Teams Arthur G Gish di Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu (23/7). Buku yang berjudul asli Hebron Journal: Stories of Nonviolent Peacemaking ini merupakan catatan seorang aktivis perdamaian dari Amerika Serikat yang melawan sepak terjang Israel di Palestina dengan jalan cinta kasih dan antikekerasan.  

Peluncuran buku ini dihadiri oleh penulis buku Arthur Gish, diplomat senior yang menguasai persoalan Palestina dan Asia Pasifik DR Makarim Wibisono, Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan PhD, Wakil Direktur Operasi Penerbit Mizan Putut Widjanarko, dan puluhan undangan lainnya.  

Gish yang terbang dari Athens, Ohio, Amerika Serikat, ke Indonesia mengatakan, akar permasalahan terbesar di dunia ini adalah gagasan untuk mendominasi dan mengontrol. Ia juga mengkritik Presiden Amerika Serikat George W Bush yang alih-alih menciptakan perdamaian di Palestina, malah makin memperburuk keadaan.  

Makarim mengatakan, buku karya Gish sangat menarik karena penuturan yang bersumber dari catatan harian serta kepribadian Gish yang kuat dan pemberani. Selain itu, menurutnya, buku tersebut sangat jelas mengungkapkan ekspresi pihak yang tertindas ataupun pihak yang menindas.  

Menurut Makarim, buku tersebut menggunakan pendekatan mikroskopik karena hanya mencakup Kota Hebron. Buku ini menangkap secara jelas rasa kebencian, arogansi rasial, disinformasi, dan tindakan apartheid. Kota Hebron terletak di sebelah selatan Betlehem dan di sebelah timur Gaza.  

Sementara itu, Anies, melalui kesempatan tersebut, menyampaikan kekhawatirannya terhadap kondisi Palestina. Isu Palestina semakin dekat dengan agama sehingga usaha membela Palestina semakin susah. Hal ini juga diamini oleh Makarim. Akar pertikaian antara Palestina dan Israel bukan karena isu agama, melainkan masalah hak permukiman dan penggunaan air. Jadi, lanjut Makarim, salah jika ada persepsi Palestina adalah Islam karena banyak juga pemeluk Kristen di sana. (C9-08)