JAKARTA, SELASA - Kendati dukungan sebagai calon presiden mulai mengalir kepada Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir, namun hingga saat ini SB, panggilan akrab Soetrisno Bachir, belum memutuskan apakah maju dalam pilpres 2009.
"Keluarga belum setuju dan saya sendiri belum memutuskan karena ada mekanisme partai. Selain itu, undang-undang pilpres belum jelas. Saya juga berpikir, apa bisa jadi presiden karena saya ini tidak terbiasa diatur protokoler. Saya tidak ingin hidup saya penuh kepalsuan," tutur Soetrisno Bachir saat berkunjung ke Pondok Pesantren Al Asyriyah Nurul Iman di Parung, Kabupaten Bogor, Jabar, Selasa (22/7).
Kedatangan SB di Ponpes tersebut langsung didoakan 13 ribu santri sebagai presiden periode 2009-2014, yang dipimpin langsung pengasuh Nurul Iman Habib Saggaf bin Mahdi.
"Banyak tokoh bangsa yang hebat, tapi mereka ada cat hitamnya. Sedangkan Pak Soetrisno Bachir ini masih putih bersih. Jadi, saya ingin beliau jadi capres pada 2009," kata Habib Saggaf di hadapan ribuan santrinya.
Habib Saggaf mengaku terkesan dengan kepemimpinan SB di PAN karena mengakomodasi seluruh komponen bangsa dari lintas agama, etnis, dan golongan. Menurut Habib, SB adalah putra ahlusunnah waljamaah karena ayah SB tokoh NU. "Jadi PAN harus jadi milik semua biar mendapat dukungan luas rakyat," katanya.
Ketua umum PAN itu mengatakan, pesantren yang diimpikannya berkembang di Indonesia ternyata ada di Parung. Oleh karena itu SB berharap pola Nurul Iman dikembangkan pesantren-pesantren lain di seluruh Indonesia.
"Selain mengembangkan wirausaha, Nurul Iman juga layak dicontoh karena membiasakan santrinya menguasasi bahasa Inggris, Arab, Mandarin, dan Korea," kata Soetrisno.
SB mengaku terkesan dengan Ponpes Nurul Iman yang memiliki 13 ribu santri dengan luas areal lebih dari 175 hektare. Ponpes Nurul Iman yang dipakai MLB PKB Gus Dur, memiliki pabrik roti, usaha daur ulang sampah, percetakan, air minum dalam kemasan, perikanan, dan tanaman padi yang luasnya lebih dari 400 hektare di Karawang.
Pesantren itu juga mengelola perkebunan kelapa sawit, karet, dan coklat di Banten dan Lampung. (Persda Network/js)
