Rabu, 3 September 2014

News / Perempuan

Selingkuh dengan Ipar

Selasa, 22 Juli 2008 | 16:01 WIB

Sudah sering kita dengar cerita atau berita tentang suami yang selingkuh dengan ipar (adik perempuan istri). Kemungkinan itu, kata dra Rostiana, psikolog dari Universitas Tarumanegara Jakarta, amat kecil terjadi jika keterbukaan diterapkan sejak awal. "Ketiga pihak harus saling menjaga, terutama suami dan adik ipar. Mereka harus tahu batas dan menjaga kesopanan di rumah," tutur Rostiana.

Misalnya, soal pakaian. Bagi sebagian orang, cara berpakaian sering menimbulkan penafsiran yang berbeda. Bila si adik ipar mengenakan busana yang dirasa tak pantas, tak ada salahnya ditegur. Istri juga harus berperan. "Ia bisa mendekati adiknya supaya tak terjadi hal-hal yang mengganggu ketenteraman keluarganya." Begitu pun bila ia melihat si adik duduk sembarangan, misalnya, tak ada salahnya diberi tahu.

Sayangnya, suami kadang tak mendukung. Dalam arti, suami merasa istrinya terlalu cemburu. Karena itulah Rostiana menekankan, "Keterbukaan bukan untuk menimbulkan kecemburuan, tapi justru untuk menjaga sehingga masing-masing pihak menghormati pihak lain." 

Yang juga penting, ada kesepakatan antara suami dan istri bahwa mereka memang punya ikatan. Dengan demikian, kehadiran ipar tak akan mengganggu ikatan antara suami dan istri. Misalnya, selalu menyempatkan diri untuk berduaan.

Di sisi lain, ipar juga harus tahu diri. Bila melihat kakaknya dan suami tengah berduaan menonton teve, "Ya, menyingkirlah. Kalau tidak, akan menimbulkan rasa tak enak pada pasangan. Mau menegur langsung kan enggak enak. Masak adiknya masih nonton teve disuruh tidur? Jadi iparlah yang harus mengerti."

Apabila istri "mencium" ada yang tak beres antara suami dan adiknya, "Yang lebih dulu harus diajak bicara ya suami. Karena hubungan ini kan antara suami dan istri. Artinya, mungkin saja kecurigaan itu tak beralasan dan hanya perasaan sang istri. Nah, dengan berbicara, segalanya bisa dijernihkan sehingga tak mengganggu hubungan lebih lanjut," papar Rostiana.

Jika istri langsung bicara pada adiknya, apalagi jika baru merupakan kecurigaan, bisa-bisa hubungan dengan keluarga besar terganggu. "Bisa saja kan sang adik mengadu kepada orangtuanya," ujar Rostiana. Suami sebaiknya juga menjaga perasaan orang yang ada di rumah, misalnya mengetuk pintu sebelum masuk kamar adik ipar.

"Ia harus peka bahwa tingkah lakunya bisa menimbulkan persepsi yang mungkin berbeda di mata istri maupun adik iparnya." Tapi, selama suami menunjukkan peran sebagai kepala keluarga yang dihormati segalanya pasti berjalan lancar.

Apa pun, kata psikolog ini, "Kedewasaan suami-istri amat diperlukan agar bisa dengan terbuka membahas masalah-masalah yang menyangkut mereka berdua." Sepanjang suami-istri sepakat menyelesaikan masalah berdua, dampaknya justru lebih positif karena tak mengganggu hubungan dengan keluarga besar masing-masing.


Editor :
Sumber: