Minggu, 31 Agustus 2014

News / Travel

Misteri Keelokan Gunung Kelud

Selasa, 22 Juli 2008 | 07:10 WIB

Angela (18) nekat menerobos pagar besi pembatas zona berbahaya yang berjarak 1,5 kilometer dari puncak Gunung Api Kelud di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, pertengahan Juni lalu.

Setelah berputar melalui jalan tikus di lereng sebelah kiri yang hanya cukup dilalui satu orang, perempuan muda itu kembali menapaki jalan beraspal hotmix. Jalan itu merupakan jalur utama menuju puncak gunung yang pernah tersohor karena keindahan danau kawahnya itu.

Tidak ada rasa takut walaupun ia telah memasuki zona berbahaya di kawasan gunung api itu, sebagaimana ditetapkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung (PVMBG). Dia malah kian berani karena tidak sendirian. Semakin siang semakin banyak pengunjung yang datang. Bahkan, tiga minibus membawa rombongan wisatawan pengurus Masjid Al Akbar Surabaya, melaju melewati pagar setelah ada petugas yang membukakan pintu.

Di musim liburan sekolah awal Juli 2008, Kelud dipadati ratusan anak di bawah umur yang berwisata. Dengan polos mereka bermain hingga ke dasar kubah lava Kelud tanpa pengamanan.

Pemandangan itu sangat ironi. Pasalnya, Kepala Pos Pemantau Gunung Kelud Khoirul Huda telah berkali-kali menyatakan bahwa PVMBG masih menetapkan gunung itu berstatus waspada. Itu berarti, Kelud belum boleh dibuka untuk masyarakat umum, apalagi sampai melewati batas zona berbahaya.

”Kami tidak bertanggung jawab atas keselamatan pengunjung yang nekat memasuki zona berbahaya. Kalau terjadi sesuatu, tanggung sendiri risikonya,” ujar Khoirul.

Status waspada ditetapkan pascaletusan pada November 2007. Status waspada belum dicabut walaupun aktivitas kegempaan mulai menurun, dengan frekuensi di bawah 10 kali per hari. Itu pun gempa skala kecil.

Ada banyak faktor yang menjadi pertimbangan, di antaranya pengamat gunung berapi masih mempelajari kondisi Kelud setelah terjadi perubahan karakter yang signifikan. Gunung Kelud sebelumnya mengeluarkan letusan secara eksplosif (menyemburkan material). Tetapi, pada tahun 2007 letusannya menjadi efusif (mengalirkan).

Letusan efusif itu juga mengakibatkan perubahan karakter lain, yakni muncul kubah lava berupa material padat berbentuk pasir dan batuan berwarna hitam, menggantikan danau kawah berwarna hijau. Kubah lava itu terus mengeluarkan asap belerang dan menimbulkan hawa panas di sekitarnya.

Posisi batu-batuan pada kubah lava juga belum stabil sehingga rawan longsor apabila terjadi tiupan angin kencang atau terjadi gempa berkuatan agak besar. ”Butuh waktu satu sampai dua tahun untuk menunggu perubahan karakter Gunung Kelud mencapai kestabilan sehingga kita bisa mengambil kebijakan,” ujar Khoirul.

Baru-baru ini Pos Pemantau Gunung Kelud di Kediri mengumumkan, pertumbuhan kubah lava berhenti pada ketinggian 250 meter dengan diameter 400 meter. Sebelumnya masih ada pergerakan ke atas (meninggi) dan ke samping (melebar).

”Pemantauan kegempaan melalui alat seismograf dan pantauan visual melalui kamera CCTV yang dipasang di Gunung Sumbing menunjukkan aktivitas pertumbuhan kubah lava berhenti. Itu menunjukkan tidak ada lagi aktivitas magmatik dalam perut Bumi pascaerupsi efusif November 2007,” katanya.

Meski demikian, bukan berarti kondisi Kelud benar-benar aman untuk dikunjungi. Sebab, berdasarkan letusan pada 10 Februari 1990, letusan muncul setelah petugas vulkanologi menyatakan situasi aman bagi pengungsi. Akibatnya, 34 warga meninggal dan ratusan rumah di Kabupaten Kediri dan Kabupaten Blitar musnah diterjang muntahan material panas.

Potensi pariwisata

Gunung Kelud merupakan gunung api yang unik karena berbentuk strato dengan danau kawah. Secara geografis, Kelud berada pada posisi 7056’ Lintang Selatan dan 112018,5’ Bujur Timur dengan ketinggian 1.650 meter di atas dataran Kediri atau 1.731 meter di atas dari permukaan laut.

Secara administratif, lokasi Gunung Kelud sangat strategis karena berada di antara tiga kabupaten, yakni Kediri, Blitar, dan Kabupaten Malang. Adapun kota terdekat menuju ke Gunung Kelud adalah Kediri dengan jarak sekitar 40 kilometer.

Dalam catatan sejarah, gunung ini telah mengalami 29 kali letusan, eksplosif maupun efusif, mulai tahun 1000 sampai tahun 2007. Erupsi eksplosifnya mampu menghancurkan ratusan desa di sekitarnya, termasuk ribuan hektar lahan pertanian dan menewaskan ribuan warga.

Berdasarkan pengamatan letusan tiga abad berturut-turut, waktu istirahat terpanjang aktivitas dalam perut Gunung Kelud adalah 65-76 tahun, tetapi pernah pula hanya tiga tahun. Sejak letusan tahun 1901, waktu istirahat gunung itu menjadi lebih singkat, yaitu 15-31 tahun, bahkan pernah mencapai masa paling singkat, yaitu satu tahun.

Tak bisa dimungkiri bahwa Gunung Kelud telah banyak memberi manfaat bagi masyarakat. Kelud telah lama menjadi obyek studi yang sangat menarik bagi para ilmuwan gunung api, bauk di dalam negeri maupun mancanegara. Bagi warga sekitar, letusan material pijar dari perut Bumi Gunung Kelud memberikan kesuburan tanah di lerengnya sehingga cocok untuk pertanian dan perkebunan.

Di sisi lain, keindahan panorama Gunung Kelud juga menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal ataupun mancanegara. Apalagi, pembangunan infrastruktur sangat menunjang, di antaranya jalan utama menuju puncak yang sudah beraspal.

Kelebihan lainnya adalah adanya terowongan sepanjang sekitar 200 meter dengan lebar 1,5 meter yang memungkinkan pengunjung mencapai danau kawah di perut gunung.

Keunikan Kelud terasa semakin lengkap ketika setiap tanggal 1 Suro menurut penanggalan Jawa, digelar acara larung sesaji di danau kawah sebagai simbol Condro Sengkolo atau penolak bala dari kemarahan Lembu Suro, salah satu punggawa Kerajaan Majapahit yang gagal mempersunting putri Raja Kadiri Dewi Kilisuci. Masyarakat percaya roh Rakaryan Lembu Suro bersemayam di dasar danau kawah.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri Mujianto mengatakan, Gunung Kelud merupakan salah satu obyek wisata andalan di Kabupaten Kediri. Pembangunan obyek ini mendapat prioritas.

Menurut Kepala Bagian Humas dan Protokol Kabupaten Kediri Sigit Rahardjo, ratusan miliar rupiah telah dikeluarkan untuk membiayai pembangunan obyek wisata Gunung Kelud, antara lain pengaspalan jalan dari Desa Sugihwaras sampai ke terowongan sejauh lebih kurang 5 kilometer, pembangunan tangga dari terowongan menuju danau kawah, dan pembangunan gardu pandang.

Pemkab Kediri juga sudah membangun sebuah aula yang akan disulap menjadi gedung bioskop yang khusus memutar film-film dokumenter tentang aktivitas Gunung Api Kelud.

Seiring berubahnya karakter danau kawah menjadi kubah lava, ada tambahan fasilitas baru berupa permandian air panas agar pengunjung tetap bisa menikmati hangatnya air dari perut Bumi.

Di tengah polemik tentang kondisi Gunung Kelud pascaletusan 2007, aktivitas pembangunan fisik praktis berhenti total, tetapi tidak dengan kunjungan wisatawan. Obyek wisata Kelud terus dipromosikan. Bahkan Dinas Pariwisata dan Dinas Pemasaran Kabupaten Kediri menyediakan tour leader atau pemandu wisata khusus yang bisa meminta petugas membukakan pintu pagar pembatas zona berbahaya.

”Kami berharap status waspada Gunung Api Kelud segera diturunkan menjadi aman sehingga bisa dibuka untuk umum. Menurut kami, waktu satu-dua tahun untuk memastikan kondisi aman itu terlalu lama,” ujar Sigit.


Editor :