Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 02:27 WIB
Kontes Bakat Anak, Bentuk Eksploitasi
| Sabtu, 19 Juli 2008 | 16:19 WIB
|
Share:

TPGIMAGES

KETUA Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi mengungkapkan pelaku industri televisi dan orang tua sering tidak menyadari telah melakukan eksploitasi terhadap anak lewat dunia hiburan di televisi.
    
"Kalau itu sudah ada unsur instruksi dan tekanan psikologis, itu disebut eksploitasi dan penyalahgunaan hak anak," katanya. Seto mencontohkan kontes bakat menyanyi dan sinetron yang marak di sejumlah stasiun televisi saat ini. Anak-anak tersebut tampil dengan riasan wajah yang tebal, baju seperti orang dewasa, jam siaran yang melebihi tiga jam, serta menyanyikan lagu-lagu orang dewasa yang ditentukan pihak produsernya.
    
"Itu kan demi kepentingan televisi dan orang tua, bukan keinginan anak-anak. Padahal anak-anak berhak untuk bisa bermain dengan gembira, tanpa ada tekanan atau paksaan harus begini dan begitu," katanya.
    
Keinginan untuk tampil di televisi, lanjutnya, sebenarnya bukan sepenuhnya keinginan anak. Ambisi dan keinginan orang tua yang biasanya lebih dominan dalam mendorong anak-anak tampil dalam kontes menyanyi atau sinetron di televisi.
   
"Sebenarnya itu keinginan orang tua melihat anaknya bisa tampil dan dipuji banyak orang. Padahal kalau ditanyakan pada anak itu sendiri, belum tentu dia merasakan kebahagiaan seperti orang tuanya," ujar Seto.
    
Senada dengan Seto, salah satu orang tua penyanyi cilik, Butet Trivyantini mengungkapkan ada banyak cara untuk menjadikan anak-anak terkenal dan menjadi idola. Cara yang paling cepat dan sangat diminati kalangan orang tua saat ini memang melalui kontes ataupun menempuh jalur seni peran lewat sinetron.
    
"Siapa sih yang tidak bangga melihat anaknya tampil di atas panggung, menyanyi dan menari, mendapat tepuk tangan penonton, dan apresiasi yang positif dari tim juri," katanya.
    
Hanya saja, lanjutnya, ada banyak resiko yang harus ditanggung anak dan orang tua demi mengejar ketenaran itu. "Dulu Kanya meminta untuk ikut kontes Idola Cilik di RCTI, teman-teman saya yang melihat bakat menyanyi Kanya juga menyarankan hal yang sama, tapi saya dan suami sebagai orang tua menolak," katanya.
    
Ibunda dari Ratnakanya Annisa Pinandita (Kanya) ini menilai anak akan kehilangan masa bermain dan belajar dengan adanya jadwal syuting yang ketat dan berbagai aturan yang ditetapkan oleh produser.
    
"Anak-anak yang tampil dalam kontes bakat kehilangan keceriaan khas anak-anak yang polos dan wajar. Mereka terlihat lebih dewasa dari usia yang sesungguhnya karena riasan, kostum, dan lagu-lagu yang dibawakan semuanya seperti orang dewasa. Saya tidak mau Kanya seperti itu," ujarnya prihatin.

Keinginan Industri
Komedian dan penyanyi, Ronal Surapradja mengungkapkan sangat sulit melawan industri televisi saat ini. Mereka menentukan apa dan siapa yang boleh tampil, sedangkan pelaku di dunia hiburan seperti dia ataupun anak-anak itu tidak punya pilihan lain kecuali menuruti keinginan industri televisi.

"Kita ini siapa? Mau melawan industri yang besar? Tidak bisa. Memang itu yang diinginkan dan itu yang laku dijual," katanya. Ronal yang sebelumnya dikenal lewat acara komedi "Ekstravaganza" di Trans TV ini mengatakan ketika seseorang sudah memasuki bisnis hiburan di televisi, tidak banyak yang bisa memegang teguh idealismenya.
    
"Pekerja seni dan pekerja di dunia hiburan mau tidak mau ya harus mengikuti apa yang diinginkan oleh produser," tambahnya. Direktur Program "Idola Cilik" di RCTI, Harsiwi mengatakan program "Idola Cilik" yang menampilkan kontes menyanyi anak ditujukan untuk mencari bibit-bibit baru penyanyi anak-anak dan menggali bakat menyanyi anak.
    
Ia mengungkapkan sejak program ini diluncurkan animo masyarakat cukup tinggi dibuktikan dengan hasil pemeringkatan yang cukup tinggi untuk acara ini. Idola Cilik mendapatkan 25 persen dari seluruh penonton di Indonesia dengan share diatas 30 persen dan pemeringkatan mencapai empat persen.
    
"Ini menunjukkan bahwa program Idola Cilik adalah acara yang dominan ditonton masyarakat Indonesia dibandingkan program yang lain," katanya.  

Dampak Psikologis
Sementara itu menurut Seto, berbagai tayangan kontes anak seperti "Idola Cilik" di RCTI, "Dai Cilik" di TPI, dan sinetron yang menggunakan anak-anak sebagai bintang utama secara terus menerus akan menimbulkan dampak buruk bagi anak-anak itu dan anak-anak yang menontonnya.
 
Seto mengungkapkan anak-anak belajar tentang banyak hal dari proses imitasi atau meniru apa yang mereka lihat. Tayangan yang tidak sesuai dengan perkembangan usia anak seperti riasan wajah yang tebal, baju yang tidak sesuai untuk anak, dialog yang tidak sepantasnya diucapkan anak, menyanyi lagu-lagu orang dewasa, hal tersebut yang akan dicontoh anak-anak di rumah sebagai penonton.
    
"Karena mereka melihat itu di televisi berkali-kali maka anak-anak di rumah yang menonton akan cenderung meniru, mereka menganggap hal itu sedang menjadi tren," katanya.     
    
Bagi anak-anak yang menjadi bintang televisi atau idola baru, lanjutnya, juga akan timbul dampak buruk. "Keterkenalan yang datangnya tiba-tiba belum tentu bisa diantisipasi dengan baik oleh orang dewasa, apalagi anak-anak. Popularitas yang luar biasa itu belum cukup mampu dipikul oleh anak-anak," katanya.
    
Anak-anak akan mengalami "cultural shock" atau kejutan budaya, dari kehidupan mereka yang sebelumnya biasa saja, berubah dengan adanya sorotan kamera infotainment, permintaan wawancara dari wartawan, atau dikerubuti penggemar yang minta tanda tangan.
    
"Mereka juga harus menghadapi hidup yang serba diatur dan menjadi beban. Mereka harus selalu tersenyum dan tidak boleh terlihat lelah di depan kamera, di depan penggemar dan wartawan. Padahal sebagai anak mereka punya kebebasan," kata Seto.
    
Secara perlahan, lanjutnya, kondisi tersebut akan mendorong pada perubahan psikologi anak. Banyak tindakannya yang berubah seperti anak menjadi sombong, susah diarahkan orang tua, membangkang, dan kecerdasan emosinya tidak berjalan dengan baik.
    
"Maka jangan heran bahwa banyak selebritis di dunia yang terkenal sejak anak-anak, tetapi ketika dewasa perilakunya sangat buruk. Seperti misalnya Michael Jackson dan Lindsay Lohan," katanya.
    
Lantas upaya apa yang dapat dilakukan untuk mencegah hal tersebut? Sekretaris Jendral Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengungkapkan perlu adanya kesadaran dari pelaku industri televisi bahwa mereka juga memikul tanggungjawab edukasi dalam tayangannya.
   
"Orang tua juga harus sadar bahwa anak-anak memiliki hak bermain dan belajar seperti diatur dalam Undang-undang Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Kalau sudah terjadi eksploitasi anak, maka itu sudah termasuk tindakan pidana," katanya.

Komnas Perlindungan Anak, lanjutnya, kini juga sedang melakukan kunjungan (roadshow) ke sejumlah stasiun televisi dengan memberikan imbauan agar memperbaiki tayangan kontes bakat atau sinetron-sinetron anak yang ditayangkan agar tetap mempertimbangkan hak-hak anak.

"Memang tidak mudah melawan industri kapitalisme, tapi kita harus terus membangun kesadaran masyarakat meskipun ada banyak benturan. Ini semua demi anak-anak kita nantinya," demikian Arist.

Sumber :
Antara