Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 02:06 WIB
Indonesia Dorong Ekoturisme
Frans Sarong | Kamis, 17 Juli 2008 | 11:45 WIB
|
Share:

DENPASAR, KAMIS-Ekoturisme menjadi salah satu agenda serius pengembangan pariwisata Indonesia ke depan. Untuk itu, berbagai pihak seperti industri dan pelaku pariwisata, biro perjalan, pemandu, masyarakat dan pihak terkait lainnya diharapkan mulai memberikan kepedulian lebih nyata karena Indonesia termasuk negara yang memiliki destinasi ekoturisme terbaik di dunia.

Selain itu, ekoturisme secara konsep adalah model pariwisata yang tidak hanya ramah lingkungan tapi juga sekaligus berbasiskan budaya serta memberikan keuntungan secara ekonomi bagi masyarakat setempat.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Departemen Kebudayaan Republik Indonesia, Firmasyah Rahim kepada wartawan di Denpasar, Kamis (17/7). Keterangan pers itu disampaikannya usai mengikuti pembukaan Konfrensi Ekoturisme FEALAC (Forum for East Asia Latin America Cooperation) di Hotel Inna Grand Bali Beach, Denpasar, Bali.

Forum dialog itu beranggotakan 33 negara dari Asia Timur dan Amerika Latin. Sementara konfrensinya kali ini berlangsung selama dua hari hingga Jumat (18/7), diikuti sekitar 200 peserta dari berbagai negara tersebut. Mereka berasal dari industri dan pelaku pariwisata, lembaga swadaya masyarakat, kalangan akademisi dan individual, khusus membahas berbagai isu yang berhubungan dengan ekoturisme. Firmansyah mengakui, ekoturisme memang belum berkambang luas di Indonesia. Namun telah ada sejumlah destinasi yang dinilai sudah berkembang baik.

Model pariwisata ini menjadi indeal karena berfungsi ganda. Selain sebagai obyek wisata yang berbasiskan alam serta budaya setempat, ekoturisme juga berfungsi untuk konservasi, observasi serta pendidikan. "Ekoturisme sekaligus meminimalisir bahkan kalau perlu menolkan kerusakan lingkungan," katanya.

Sejumlah contoh obyek ekoturisme di Indoesia, di antaranya adalah beberapa obyek wisata di Bali seperti Desa Budaya Kertalangu (Denpasar) , Tanah Lot di Tabanan, kawasan hutan raya Bedugul dan sejumlah lokasi lainnya di Pulau Dewata. Di luar itu bisa disebutkan seperti obyek wisata alam Rinjani (NTB), Bunaken, Gunung Gede dan Pangarango, termasuk sejumlah kawasan taman nasional (TN) di bawah pengelolaan Departemen Kehutanan.

Melalui forum FEALAC ini, di antara negara anggota bisa saling berbagi pengalaman terkait pengelolaan ekoturisme itu. "Juga dari 33 negara anggota dengan populasi sekitar 2,5 miliar jiwa, adalah pasar pot ensial sebagai wisatawan yang diharapkan berkunjung dari satu negara ke negara lainnya," jelas Firmansyah Rahim yang didampingi Dian Wirengjurit, Direktur Kerja Sana Intra Regional Deplu. (ANS)