SIMALUNGUN, RABU - Kopi lintong atau dikenal dengan kopi ateng menjadi terkenal di kawasan Danau Toba. Warga banyak berharap pada kopi ini untuk meningkatkan kesejahteraannya. Kini kopi itu mempunyai julukan baru sebagai kopi sigalar utang atau kopi untuk membayar hutang.
"Belakangan ini saja saya baru menanam kopi ateng, hasilnya bagus. Saya sebelumnya menanam tomat dan bawang, tetapi hasilnya jelek," tutur Saur Mawati Damanik (53), Rabu (16/7) saat ditemui di rumahnya di Desa Tigaras, Kecamatan Dolok Perdamean, Kabupaten Simalungun.
Tanaman kopi milik Saur kini sedang berbuah. Saat berbuah kini dia bisa memetik hasilnya dua minggu sekali selama tiga sampai lima bulan. Dia tidak susah mencari pasar kopinya karena pembeli datang sendiri ke rumahnya. "Untuk satu tumbak (dua liter) biji kopi yang sudah dijemur, saya bisa jual Rp 13.000 sampai Rp 14.000," katanya.
Dia lebih menyukai menanam kopi daripada tomat atau bawang. Tanaman bawang miliknya terkena penyakit yang membuat hasilnya sedikit. Menanam kopi, menurutnya, jauh lebih praktis daripada menanam tomat atau bawang. "Saya hanya perlu memerhatikan pupuk dan membersihkan ilalang di sekitar tanaman," katanya.
Saur berkeinginan menambah lahan kopinya yang kini seluas empat rante atau setara dengan 1.600 meter persegi. Warga sekitar juga banyak yang menanam kopi ateng. Selain di desanya, daerah Sipitu-pitu, Kabupaten Simalungun, dekat Desa Tigaras juga dikenal sebagai penghasil kopi.
Hal yang sama diakui oleh Siti Damanik. Rejeki dari tanaman kopi ateng dapat dia rasakan dari orangtuanya. Orangtuanya kini lebih banyak menggantungkan hasil kopi ateng daripada tambak ikan di Danau Toba. Tambak ikan di sekitar tempatnya tidak berhasil lantaran pada 2004 dilanda virus mematikan. "Kopi ateng ini banyak membantu ekonomi keluarga kami," katanya.
Kopi ateng juga dikenal di Kecamatan Bakti Raja, Kabupaten Samosir. Kopi ini juga dipakai sebagai bahan obat pengganti obat diare. Tokoh masyarakat Bakti Raja, Kabupaten Samosir mengakui warga mulai banyak menanam kopi ateng. Tanaman itu, tuturnya, ditanam warga untuk menggantikan produk bawang samosir yang sudah melewati masa jayanya.
Produk kopi ateng disebut-sebut menyamai legenda kopi luak yang tersohor. Nama kopi ateng diambil dari postur pohon yang pendek, seperti pelawak bernama Ateng. Sebelumnya, daerah utama penghasil kopi ateng ada di Kabupaten Humbang Hasundutan dan Dairi.

