Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 01:58 WIB
Banyak Perajin Perak Jadi Tukang Batu
Eny Prihtiyani | Rabu, 16 Juli 2008 | 18:37 WIB
|
Share:

Kompas/Pascal bin Saju
Perajin perak di Kotagede, Yogyakarta

BANTUL, RABU - Pascagempa, jumlah perajin perak di Desa Jagalan, Banguntapan, Bantul ,terus menyusut hingga mencapai 40 persen. Para perajin beralih profesi menjadi tukang batu atau tukang kayu karena keterbatasan modal yang mereka miliki. Perajin yang sanggup bertahan pun hanya mampu bekerja sebagai buruh, yang mengandalkan kerja borongan dari pengepul.

Trisno Sunyoto, salah seorang perajin di Dusun Bodon, Jagalan, Rabu (16/7) menuturkan, sebelum gempa jumlah perajin di wilayah RT-nya masih sekitar 25-30 perajin, namun pascagempa tinggal 15 orang saja. "Hal serupa juga terjadi di keanggotaan kelompok kami. Jumlah anggotanya berkurang hingga 40 persen lebih," katanya.

Menurut Trisno, berkurangnya jumlah perajin karena kondisi usaha yang tidak menentu pascagempa. Mereka pun beralih menjadi tukang atau buruh kasar lainnya. Gempa membuat peralatan rusak. "Setelah itu harga bahan baku terus melambung, sehingga perajin pun sulit bertahan," tuturnya.

Para perajin yang masih bertahan saat ini sebagian besar hanya bekerja sebagai buruh dari pengepul. Mereka dibayar dengan sistem borongan. "Buruh borongan hasilnya sangat mepet. Dulu masih banyak perajin yang punya usaha sendiri, tapi sekarang modal mereka makin menipis," tambahnya.

Ketidakmampuan perajin menjalankan usaha sendiri salah satunya karena harga bahan baku perak yang terus melambung. Bila sebelumnya harga perak Rp 5 juta/kilogram kini sudah menembus Rp 6 juta/kilogram. Harga perak sangat fluktuatif. "Bagi perajin kecil kondisi tersebut sangat menyulitkan karena modalnya terbatas," kata Bagus Chandra Barata, marketing Kelompok Perajin Perak Jurang Mulyo.

Menurut Bagus, keterpurukan perajin perak juga dipengaruhi melemahnya daya beli masyarakat. Sebagai barang aksesoris, kerajinan perak menjadi kebutuhan kesekian setelah kebutuhan pokok terpenuhi. Penjualan saat ini hanya didominasi barang-barang aksesoris penampilan seperti cincin dan kalung, yang nilainya tidak seberapa. "Dulu, orang masih banyak yang membeli perlengkapan rumah tangga berbahan perak, tetapi sekarang sudah langka," katanya.

Bagus berharap Pemerintah Kabupaten Bantul memberikan perhatian lebih agar perajin perak bisa bangkit dan berkembang. "Kami sangat berharap ada bantuan akses permodalan dan pemasaran. Bila ada event-event pameran, kami minta diikutkan s ebagai peserta," tambahnya.