Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 01:24 WIB
Malaysia Lebih Pintar Mengemas Orangutan
Tri Wahono | Minggu, 13 Juli 2008 | 20:59 WIB
|
Share:

DEPOK, MINGGU - Orangutan sebenarnya berpeluang besar menjadi ikon Indonesia di mata dunia di tengah krisis citra negeri ini. Sayangnya negara tetangga Malaysia lebih pintar mengemas orangutan sebagai daya tarik.

Misalnya dalam iklan salah satu maskapai penerbangan swasta asal negeri jiran tersebut. Dalam salah satu promosi penerbangan murah ke Malaysia di media cetak, maskapai tersebut menampilkan foto orangutan. Seolah-olah mereka mau menunjukkan bahwa orangutan merupakan satwa khas yang dapat ditemui di Malaysia. Kenyataannya orangutan memang telah ditetapkan sebagai maskot Sabah.

Padahal, orangutan lebih banyak hidup di Indonesia daripada di Malaysia dari jumlah populasi maupun spesies. Indonesia memiliki dua jenis spesies berbeda yakni orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dan orangutan Sumatera (Pongo abelii). Di Kalimantan bahkan terdapat tiga subspecies masing-masing di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah.

"Dari empat jenis kera besar, orangutan adalah satu-satunya kera besar di Asia. Tiga lainnya, gorila, simpanse, dan bonobo ada di Afrika," ujar Jito Sugardjito dari Flora Fauna International Indonesia Program dalam lokalatih konservasi orangutan yang digelar OCSP (Orangutan Conservation Services Program) dan AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Jakarta di Depok, Jawa Barat, 11-13 Juli 2008.

Dengan fakta-fakta tersebut, peluang orangutan menjadi ikon Indonesia seharusnya lebih besar. Bahkan ikon orangutan sebagai solusi perubahan iklim sesuai semangat yang diangkat saat diluncurkan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017 oleh Presiden SBY di sela-sela konvensi perubahan iklim di Bali akhir tahun lalu. Namun, tujuan akhir yang lebih penting bukan sekadar ikon melainkan kepedulian pemerintah dan masyarakat untuk turut melindungi orangutan dan habitatnya agar tidak punah.