Laporan Wartawan Kompas Eny Prihtiyani
YOGYAKARTA,MINGGU - Sebagai barang yang mengandung unsur subsidi, harga elpiji kemasan 3 Kilogram seharusnya dijamin tidak naik. Bila tetap dinaikkan, kebijakan konversi gas akan semakin kontraproduktif dan terancam gagal.
Menurut Ketua Lembaga Konsumen Yogyakarta (LKY) Nanang Ismuhartoyo, Sabtu (12/7), kenaikan harga elpiji kemasan 12 Kilogram telah membuat konsumen resah, khususnya mereka yang baru saja menerima bantuan kompor dan tabung gasa dari pemerintah." Mereka memperkirakan kenaikan harga juga akan terjadi pada kemasan 3 Kg," katanya.
Elpiji kemasan 3 Kg, lanjut Nanang, harus diperlakukan berbeda karena mengandung unsur subsidi seperti pada minyak tanah. Harganya tidak bisa dilepas mengikuti sistem pasar. "Harus ada jaminan bahwa harganya tidak akan naik. Untuk kestabilan harga, pemerintah juga perlu menetapkan harga eceran tertinggi atau HET," katanya.
Agar harganya terjamin, pemerintah harus mengintervensi Pertamina. Penetapan harga harus dikendalikan penuh oleh pemerintah. "Elipiji adalah sumber daya alam yang dimanfaatkan oleh masyarakat banyak sehingga pengelolaan harus berada di tangan pemerintah, bukan pada korporasi," katanya.
Kenaikan harga elpiji kemasan 12 Kg, menurut Nanang, juga menjadi bukti bahwa kebijakan konversi energi bersifat menjebak. Satu sisi masyarakat didorong untuk beralih ke elpiji, di sisi lain harga elpiji justru dinaikkan. "Dalam masalah tersebut Pertamina dan pemerintah sudah bertindak sewenang-wenang," tambahnya.
