LONDON, SABTU - Menurut analisis pakar pertahanan, Kamis (10/7), Iran merekayasa jumlah peluru kendali yang ditembakkan selama dua hari terakhir ini. Iran juga melebih-lebihkan kemampuan persenjataan yang mereka miliki.
Pakar pertahanan dari Institut Internasional Studi Strategi, London, Mark Fitzpatrick, menegaskan, berdasarkan hasil analisis beberapa foto jepretan kantor berita AFP, tampak jelas Iran telah merekayasa atau memalsukan jumlah rudal yang ditembakkan. Dari beberapa foto tampak bahwa Iran sebenarnya hanya menembakkan tiga rudal pada hari kedua. ”Sejak awal tujuan uji rudal hanya untuk menunjukkan kekuatan persenjataan Iran,” katanya.
Foto-foto yang dipublikasikan Garda Revolusi Iran di situs internet kantor berita Sepah itu menunjukkan empat rudal lepas landas di gurun pasir. Dari foto-foto itu terlihat ada satu rudal rekaan atau tambahan dengan memakai elemen asap rudal-rudal yang ada di sebelahnya. ”Foto itu sudah jelas dimanipulasi,” kata Gerard Issert, teknisi di Grano (salah satu laboratorium foto terbesar di Paris, Perancis).
Selama dua hari terakhir, Iran mengklaim menembakkan paling tidak 12 rudal jenis Shahab-3 dengan hulu ledak konvensional seberat 1 ton dan berdaya jangkau 2.000 kilometer. ”Sebenarnya itu tidak mungkin. Shahab-3 normalnya punya daya jangkau 1.300 kilometer. Memang bisa saja makin jauh hingga 2.000 kilometer, tapi perlu ada hulu ledak yang lebih ringan,” kata Fitzpatrick.
Benar atau tidaknya foto hasil uji rudal Iran itu, juru bicara Departemen Pertahanan AS Geoff Morrell mengingatkan, uji coba itu hanya upaya Iran untuk menunjukkan kekuatan serta mengintimidasi negara-negara lain, bukan benar-benar untuk menguji kemampuan rudalnya.
Tidak perlu
Menurut Pemerintah Rusia, uji rudal Iran menunjukkan ternyata kekuatan rudal Iran terbatas. Karena itu, sistem pertahanan rudal AS yang akan dipasang di wilayah Eropa sebenarnya tidak akan berguna. ”Dengan kekuatan berdaya jangkau 2.000 kilometer itu, saya kira AS tidak perlu menanggapi ancaman seperti itu. Kami yakin isu Iran bisa diselesaikan dengan negosiasi dan melalui diplomasi, bukan dengan ancaman-ancaman,” kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.
Ia menambahkan, AS boleh saja melanjutkan upaya membangun sistem pertahanan itu, tetapi tindakan itu jelas satu pihak. Padahal, yang dibutuhkan kesepakatan bersama.

