KOMPAS
Jumat, 19 Maret 2010 Selamat Datang  |     |  
Minyak Jelantah pun Bisa Jadi Biodesel
Rabu, 9 Juli 2008 | 21:09 WIB

MAJALENGKA, RABU - Produksi limbah minyak jelantah yang berlimpah di sentra makanan gorengan di Kecamatan Cingambul, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, selama ini terbuang percuma dan hanya dijual ke pengepul untuk didaur ulang menjadi minyak goreng curah. Padahal, produksi minyak jelantah yang mencapai 1.000 liter per hari, itu dapat dimanfaatkan menjadi biodiesel pengganti solar yang ramah lingkungan.

Oleh karena itu, peneliti dari Energi Gratis (Egra) PT Bumi Energi Equatorial Widodo Banyuaji mengatakan, Rabu (9/7), dia bersama Gerakan Wakaf Pohon memasyarakatkan pengolahan limbah jelantah menjadi produk yang lebih bermanfaat, yaitu biodiesel. Selain biaya produksi pengolahannya murah, hanya berkisar Rp 2.500 per liter, pembuatan biodiesel dari jelantah itu bisa dilakukan masyarakat sendiri tanpa membutuhkan mesin yang canggih. Bahan kimia yang dibutuhkan untuk katalisator hanya metanol dan kalium hidroksida (KOH).

"Dari 100 liter minyak jelantah, dengan proses sederhana, dapat dihasilkan 80 liter biodiesel. Jika dengan mesin yang canggih, produksinya bisa mencapai 95 persen," ujar Widodo.

Biodiesel yang diproduksi, bisa menjadi campuran atau 100 persen digunakan untuk alternatif solar. Apabila harga minyak jelantah itu hanya Rp 2.000 per liter, ditambah biaya produksi maksimal Rp 3.000 per liter, maka masih lebih murah dibandingkan harga pasaran solar di desa. Bahkan, jika dijual ke pelaku industri, yang selama ini mengonsumsi solar non-subsidi, harga jualnya bisa Rp 7.000 per liter.

Sementara itu, menurut Kepala Dinas Sosial Jawa Barat Tio Indra Setiadi, pengolahan limbah jelantah menjadi biodiesel merupakan upaya pemberdayaan masyarakat, yang mengarah pada pengentasan kemiskinan. Sebab, 20 persen dari 12 juta warga miskin di Jabar, berada di wilayah pedesaan di bagian selatan propinsi yang berpenduduk 42 juta jiwa ini. Dengan membuat biodiesel, kata Tio, selain memenuhi kebutuhan energinya sendiri pada saat krisis energi, juga bisa dijual sebagai alternatif pendapatannya.

 

 

 

 

Penulis: Timbuktu Harthana   |   Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.