Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 08:13 WIB
Pemadaman Listrik Berpengaruh pada Perajin Mie
Defri Werdiono | Rabu, 9 Juli 2008 | 19:09 WIB
|
Share:

JAKARTA, RABU - Pemadaman listrik dalam waktu lama merugikan pengusaha rumah tangga, termasuk mie. Selain proses produksi terganggu, bahan yang masih setengah jadi akhirnya tidak bisa dijual. Sementara di sisi lain, biaya produksi meninggi a kibat kenaikkan harga bahan bakar.

Pandi, Perajin mie skala keluarga di RT 1 RW 4 Jalan Apel, Pertukangan Utara, Cileduk, Jakarta Selatan, mengemukakan pihaknya rugi Rp 2-3 juta akibat listrik padam hampir lima jam yang terjadi beberapa waktu lalu. Setiap hari ia membutuhkan 15-20 zak terigu atau 375-500 kilogram (kg). Kalau dinilai uang, besarnya Rp 2,6-Rp 3,5 juta dengan asumsi harga satu kg terigu Rp 7.000.

Kalau masih berupa bahan mentah tidak masalah karena bisa ditunda pembuatannya. Tapi, kalau sudah dalam proses atau setengah jadi sulit, apalagi jika harus didiamkan beberapa jam menunggu listrik hidup. Mie yang sudah jadi saja kalau tidak segera dimasukkan dalam kantung plastik hasilnya menjadi kurang bagus akibat terkena udara. Ini berpengaruh pada kualitas, ujarnya ketika dihubungi, Rabu (9/5).   

Menurut Pandi, pihaknya biasa membuat mie dua kali sehari, yakni pukul antara 02.00-07.00 dan 13.30-15.00. Sayangnya, waktu pemadaman tidak selalu di luar jam tersebut.   

Ketua paguyuban perajin mie Tunggal Rasa se-Jabodetabek Wakidi mengemukakan hampir 99 persen anggotanya menggunakan peralatan yang bersumber pada energi listrik, seperti alat pres. Kondisi ini berbeda dengan tahun 70-an yang masih didominasi peralatan manual, listrik hanya seki tar 1 persen. Di DKI, anggota Tunggal Rasa mencapai 60-an perajin. Setiap anggota minimal memiliki 50 gerobak mie.

Menurut Wakidi tidak semua perajin memiliki generator atau genset sebagai sumber energi cadangan. Oleh karena itu pihaknya berharap waktu pemadaman tidak terlalu lama. Entah, kalau setelah ini listrik sering padam, maka anggota kemungkinan akan beli genset, kata Wakidi yang juga menjadi ketua paguyuban Tunggal Rasa se-Indonesia.