Senin, 21 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 21 Mei 2012 | 18:11 WIB
Joki-joki Pasar Modal Indonesia
| Rabu, 9 Juli 2008 | 06:31 WIB
|
Share:

KOMPAS/RIZA FATHONI
Antrean masyarakat yang ingin membeli saham dalam penawaran umum saham PT Adaro Energy Tbk di Kawasan Niaga Sudirman, Jakarta, Selasa (8/7). Sebanyak 222,78 juta saham dari total 11,139 miliar saham yang dilepas ditawarkan serentak di Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Medan hingga 10 Juli.

Setelah sempat tertunda selama dua pekan, PT Adaro Energy akhirnya dapat melakukan penawaran umum perdana sahamnya mulai Selasa (8/7) hingga Kamis (10/7). Minimnya jumlah saham yang ditawarkan kepada investor ritel mengakibatkan saham perdana perusahaan tambang batu bara itu diperebutkan.

Ini lagi jual saham Adora mas,” kata Nurpuji (30), warga Ciputat, Tangerang, yang ditemui di Kawasan Semanggi Expo, Jakarta, kemarin siang.

Nurpuji bersama dengan ratusan orang lainnya antre demi memperoleh sebundel formulir pemesanan saham perdana PT Adaro Energy.

Namun, Nurpuji diam membisu saat ditanya jumlah saham yang akan ia pesan. Ia hanya menunjukkan sebuah kertas putih bertuliskan ”Investor Portfolio”, yang dikeluarkan sebuah perusahaan sekuritas.

Dari gelagat dan caranya menjawab, tidak sulit untuk mengetahui bahwa Nurpuji adalah ”joki” saham yang dibayar seseorang untuk mendapatkan formulir saham Adaro. Kesalahannya menyebutkan ”Adaro” dengan ”Adora” pun sudah memberi indikasi kuat.

Tak jauh dari tempat Nurpuji berdiri, tujuh ibu separuh baya tampak serius mendengarkan pengarahan seorang pria berpakaian rapi. ”Kalau ditanya petugas account-nya (rekening) di mana, bilang saja di perusahaan ini,” kata pria itu sambil menunjukkan sebuah nama perusahaan sekuritas yang tertera pada kertas investor portfolio.

Ketujuh ibu itu pun menghafalkan nama perusahaan sekuritas tersebut. Namun, mereka kesulitan membaca ”Securities”, kata kedua dari nama perusahaan sekuritas itu, yang terdengar mereka mengucapkan securities dengan se-ku-ri-ti-es, yang seharusnya dibaca si’kyuritis.

Mereka memiliki ”profesi” yang sama dengan Nurpuji, yakni menjadi bagian dari ratusan ”joki” yang pada Selasa (8/7) ikut antre untuk mendapatkan formulir pemesanan saham perdana Adaro.

Para ”joki” itu datang menggunakan bus umum yang disewa seseorang yang disebut ”kepala joki”. Dari ”kepala joki” inilah para ”joki” mendapatkan investor portfolio, selembar kertas yang menunjukkan bahwa seseorang memiliki portofolio saham di sebuah perusahaan sekuritas.

Anehnya, nama yang tertera pada investor portfolio itu sama dengan nama yang tertera pada KTP ”joki”. ”Semuanya sudah diatur orang dalam,” kata Asri, seorang kepala ”joki”.

Asri mengaku mengerahkan 50 joki. Masing-masing joki, yang sehari-hari adalah ibu rumah tangga, pengamen, tukang ojek, dan jenis pekerjaan kasar lainnya, diberi upah Rp 30.000 untuk satu bundel formulir.

”Biasanya saya dapat 2-3 formulir, tetapi hari ini hanya dapat satu,” kata Narini (35), seorang ”joki” yang membawa tiga anaknya yang masih kecil saat mengantre.

”Saya belum dapat, tidak kuat antrenya,” ujar Cawit, seorang ibu berusia 70 tahun.

Asri sendiri mendapat upah Rp 10.000 untuk setiap formulir yang berhasil didapatkan ”joki”. Upah itu diperoleh dari seseorang yang disebut dengan bandar ”joki” atau ”bos besar”.

Seorang bandar ”joki”, sebut saja Joan, menuturkan, ia mengeluarkan Rp 50.000 per formulir. Selain untuk kepala ”joki” dan joki, dana itu untuk menyewa bus dan uang makan ”joki”.

Rahasia umum

Setelah mendapatkan formulir cukup banyak, Joan mengatakan, ia akan mengisi berapa banyak saham yang dipesan dan kemudian mentransfer dana ke bank sesuai nilai saham yang dipesan. Bukti transfer ini selanjutnya ditunjukkan kepada petugas IPO untuk divalidasi.

Saat ditanya, apakah petugas IPO tidak curiga ketika Joan memvalidasi cukup banyak formulir, Joan hanya menjawab, ”Mereka juga sudah tahu, sudah rahasia umum.”

Bahkan, kata Joan, saat proses penjatahan, semua saham yang dipesan akan masuk ke rekening portofolionya, sekalipun dalam formulir pemesanan yang tertera adalah nama para ”joki”.

”Semuanya sudah diatur. Badan Admistrasi Efek juga tau kok,” katanya.

Joan mengaku terpaksa mengerahkan dan mengkordinir sekitar 50 joki karena sulit mendapatkan saham-saham perdana yang harganya berpotensi naik saat diperdagangkan di pasar sekunder nanti. ”Kalau sahamnya jelek, baru dalam porsi besar dilepas ke investor ritel,” katanya.

Danatama Makmur memang hanya mengalokasikan 222,78 juta saham perdana Adaro kepada publik. Jumlah itu setara dengan dua persen dari total saham Adaro yang akan dilepas kepada publik, yaitu sebanyak 11,139 miliar saham.

Sisanya, 98 persen, sudah dicadangkan untuk investor institusi, khususnya institusi asing.

Dengan harga Rp 1.100, sebanyak 227,78 juta saham Adaro itu setara dengan Rp 245 miliar, jumlah yang relatif kecil bagi 250.000 investor ritel di Indonesia. Apalagi, bila dibandingkan dengan target perolehan dana IPO Adaro sebesar Rp 12,25 triliun. (REINHARD NAINGGOLAN)

Sumber :
KOMPAS