Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 07:40 WIB
Perahu Eretan Masih Ada di Jakarta
Inggried Dwiwedhaswary | Minggu, 6 Juli 2008 | 16:07 WIB
|
Share:
INGGRIED DWIWEDHASWARY
Perahu eretan, yang beroperasi di kali Ciliwung di kawasan Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat.
Foto:

JAKARTA, MINGGU - Busway boleh saja beredar membelah belantara Jakarta. Pemerintah DKI Jakarta boleh saja sesumbar soal monorail ataupun subway. Namun, transportasi tradisional yang satu ini ternyata masih eksis di tengah gempuran modernitas ibu kota. Namanya? Perahu eretan!

Kalau Anda sering melintasi jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pasti tak asing dengan perahu eretan. Disepanjang jalan ini terdapat Kali Ciliwung yang membelah dua bagian jalan. Nah, perahu eretan ini beroperasi di empat titik Kali Ciliwung yang terbentang di sepanjang Jalan Gunung Sahari, salah satunya di kawasan Pasar Baru Timur.

Mengapa namanya perahu eretan? "Karena nariknya dieret-eret (diseret)," tutur Hendra (20), sang penarik perahu eretan, saat dijumpai Kompas.com, Minggu (6/7).

Perahu tersebut bisa mengangkut hingga 10 orang untuk satu kali jalan. Terbuat dari kayu, dilengkapi tempat duduk dan beratap. Jadi, jangan khawatir kehujanan ataupun kepanasan. Jarak tempuhnya tak jauh. Sekitar 10 hingga 15 meter. Sebuah tali karet hitam dan beberapa kabel yang diuntai dihubungkan dari dermaga kecil di Pasar Baru Timur hingga dermaga di seberangnya.

Sebagai gambaran, dermaga kecil itu terletak tepat diseberang pusat perbelanjaan Golden Truly. "Biasanya yang banyak naik karyawan industri di Pasar Baru sama pekerja di Golden. Ongkosnya sukarela. Kadang ada yang ngasih 500, ada yang 1000," ujar Hendra.

Akhir pekan hanya segelintir orang yang memanfaatkan jasa perahu eretan. Pada hari kerja, dalam sehari bisa 50 orang sejak beroperasi pukul 6.00 pagi hingga pukul 22.00.

Tidak ada yang tahu persis sejak kapan perahu eretan ini beroperasi. Yang jelas, pemilik perahu adalah warga Brebes, Jawa Tengah, bernama Pak Sukim. Hendra adalah satu dari dua orang yang ditugaskan Pak Sukim untuk mengelola jasa perahu eretan di Pasar Baru Timur. Bagi warga, keberadaan perahu eretan ternyata sangat membantu.

"Lumayan, cuma bayar Rp 1.000, udah sampai. Daripada jalan muter, jauh," kata Suryani, seorang pekerja industri di Pasar Baru.

Namun, menurut pengakuan Hendra, jumlah penumpangnya mengalami penurunan drastis sejak tahun 1997. Tepatnya sejak ada jembatan penyeberangan yang menyatu dengan halte busway.

"Tapi nggak apa-apa, yang penting masih ada yang make (menggunakan jasanya)," kata Hendra. Tak hanya warga yang ingin menyeberang yang menikmati jasa perahu eretan.

Seorang ibu, Tati, warga Pasar Baru Timur, mengajak anak balitanya menaiki perahu dari kayu tersebut. "Buat menikmati suasana sore. Sayangnya, kalinya bau," kata dia sembari menutup hidung.