YOGYAKARTA, JUMAT– Penyelidikan penyebab jatuhnya pesawat angkut ringan TNI AU CASA-212 di dasar jurang lereng Gunung Salak, Jawa Barat, akhir Juni lalu akan dilakukan melalui pengamatan visual. Tim penyeldik dipastikan sudah bekerja di lapangan sejak awal Juni hingga tiga bulan ke depan.
Tindakan pengamatan visual, menurut Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Subandrio, terpaksa dilaksanakan karena pesawat TNI AU tidak dilengkapi dengan kotak hitam. Dalam dunia keselamatan penerbangan, kotak hitam penting sebagai kunci pengungkap sebab kecelakaan pesawat karena berisi rekaman percakapan pilot dengan stasiun pengendali udara.
“Akan sangat berbahaya apabila pesawat TNI AU dilengkapi dengan kotak hitam, apalagi bila pesawat justru jatuh di daerah musuh,” demikian tegas Subandrio usai mewisuda para penerbang dan navigator muda di Lapangan Jupiter Landasan Udara Adisutjipto, Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (4/7).
Subandrio melanjutkan, penyelidikan visual sudah dimulai sejak awal Juni dan dilakukan oleh tim yang dipimpin Dinas Keselamatan Penerbangan dan Kerja Markas Besar TNI AU. Tim berisi sejumlah tenaga ahli di bidang penerbangan, teknisi pesawat, dan dokter ahli forensik.
Tim akan bekerja selama tiga bulan penuh hingga akhir Agustus mendatang. Selama proses penyelidikan berlangsung, Subandrio menegaskan pihaknya tidak akan mengeluarkan pernyataan apa pun terkait dugaan penyebab jatuhnya pesawat angkut yang dimiliki TNI AU sejak tahun 1985 itu.
Pesawat TNI AU CASA-212 ditemukan jatuh di dasar lereng Gunung Salak pada tanggal 27 Juni lalu setelah dilaporkan hilang sehari sebelumnya. Tragedi naas tersebut menewaskan 18 orang awak pesawat bersama penumpangnya.

