Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 06:49 WIB
Kemenangan Mugabe Seret Zimbabwe ke Sanksi AS
Jimmy Hitipeuw | Senin, 30 Juni 2008 | 04:09 WIB
|
Share:

GETTY IMAGES/JOHN MOORE
Potret resmi Presiden Robert Mugabe terpancang di tembok dengan beberapa uang kertas dolar Zimbabwe di bandara Bulawuyo, Zimbabwe, 28 Juni 2008.

TERKAIT:

HARARE, SENIN - Pemimpin veteran Zimbabwe Robert Mugabe telah memenangkan pemilihan putaran kedua yang hanya diikuti oleh orang yang telah berkuasa selama 28 tahun itu. Pemilihan putaran kedua itu telah secara luas dikecam hampir di seluruh dunia setelah kandidat presiden oposisi Morgan Tsvangirai menarik diri dari pemilihan itu dengan menjelaskan pemilihan tersebut sulit terlaksana secara jujur dan adil karena diwarnai oleh aksi kekerasan terhadap pendukungnya.  

Negara-negara Barat meningkatkan seruan akhir pekan lalu untuk mengakhiri pemerintahan Mugabe setelah pria berusia 84 tahun ini tetap menggelar pemilihan putaran kedua dengan dirinya sendiri sebagai calon tunggal presiden karena mundurnya Tsvangirai dari pemilihan itu. "Rezim Mugabe menyelenggarakan pemilihan palsu," kata Presiden AS George W. Bush.

Selain menyerukan embargo persenjataan internasional terhadap Zimbabwe, Bush menyatakan Washington akan menekankan sanksi baru dan mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menerapkan larangan perjalanan bagi para pejabat Zimbabwe. Sementara Perdana Menteri Kenya Raila Odinga menyatakan Uni Afrika seharusnya menyebarkan pasukan ke Zimbabwe untuk menyelesaikan krisis yang telah menjadi "aib" bagi kawasan benua tersebut.

"Waktunya telah tiba bagi benua Afrika untuk bersatu dalam mengakhiri kediktatoran (kekuasaan Mugabe)," kata Raila Odinga. Uskup Desmond Tutu dari Afrika Selatan juga menyerukan intervensi internasional terhadap pemilihan putaran kedua yang digelar oleh pemerintah Mugabe.

Walaupun sejumlah pemimpin Afrika merasa gerah dengan sikap Mugabe dalam beberapa hari terakhir, para menteri luar negeri di kawasan itu dalam rencana rapat KTT Uni Afrika di Mesir Senin (30/6) ini mengisyaratkan bahwa kelompok tersebut tidak akan mendukung seruan Barat untuk menjatuhkan sanksi ke Zimbabwe. Mereka lebih menginginkan terbentuknya pembagian kekuasaan antara pemerintah dengan pihak oposisi di Zimbabwe.

Mugabe yang telah dilantik sebagai presiden Minggu (29/6) untuk masa pemerintahan yang baru juga akan hadir dalam KTT Afrika itu. Para pemimpin Afrika diperkirakan akan menekan Mugabe, yang telah memimpin Zimbabwe sejak merdeka dari Inggris pada tahun 1980, agar membentuk kesepakatan pembagian kekuasaan dengan pemimpin oposisi Morgan Tsvangirai guna mengakhiri krisis politik Zimbabwe yang diantaranya telah melambungkan inflasi di negara itu hingga 1 juta persen.

Sumber :
AP