Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 06:40 WIB
Korban Casa Diduga tak Ada yang Hidup
Sugiyarto | Sabtu, 28 Juni 2008 | 13:45 WIB
|
Share:

KOMPAS/AGUSTINUS HANDOKO
Anggota Paskhas TNI AU bersama relawan, Sabtu (28/6) berupaya mengevakuasi penumpang CASA 212 yang jatuh pada Kamis lalu. Puing-puing pesawat dan jenazah para penumpang ditemukan di ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut di Gunung Salak yang masuk Wilayah Gunung Malang, Kesatuan Pemangku Hutan Perum Perhutani Bogor.

TERKAIT:

JAKARTA, SABTU - Korban pesawat Cassa 212 bernomor A-2016 yang jatuh di tepi tebing kaki Gunung Salak diperkirakan tidak ada yang hidup. Sebab pesawat diduga meledak terlebih dulu sebelum akhirnya jatuh berkeping-keping ke tanah.

Sejumlah warga yang sudah melihat langsung lokasi jatuhnya pesawat menuturkan, pesawat milik TNI AU yang mengalami naas pada Kamis (26/6) hancur bekeping keping.

"Serpihan pesawat yang kami temukan dan kami lihat itu kecil-kecil. Catnya masih utuh, tidak ada bekas terbakar. Tapi gak keliatan lagi itu serpihan pesawat bagian apanya," tutur Midri (30) salah satu warga yang ikut serta melakukan pencarian lokasi jatuhnya pesawat.

Rombongan Midri yang berjumlah 11 orang merupakan rombongan yang pertama kali menemukan lokasi jatuhnya pesawat. Jumat (27/6) sekitar pukul 13.00 WIB, Midri dan kawan-kawannya menemukan lokasi jatuhnya pesawat di tepi jurang yang dalamnya diperkirakan mencapai 500 meter.

Menurut Midri, ia sempat melihat potongan-pontongan tubuh berceceran di sekitar lokasi jatuhnya pesawat. "Ada yang terlihat hanya kakinya saja," ungkap Midri.

Kondisi pesawat katanya juga sudah tercerai berai. Pecah menjadi serpihan-serpihan kecil. Ada yang nyangkut di pohon dan ada yang berserakan di tanah. "Kami tidak melihat badan pesawat yang besar. Yang kami lihat hanya serpihan-serpihan kecil yang berserakan," katanya.

Midri juga menduga pesawat itu menabrak pohon sebelum meledak dan jatuh berkeping-keping. Sebab ia melihat ada pohon di lokasi jatuhnya pesawat yang patah dahan-dahannya seperti ditabrak pesawat. "Kelihatanya pohon itu ketabrak bukan tertimpa. Soalnya patah," ujarnya.

Pada Kamis siang (26/6), Midri dan kawan-kawannya mendengar suara ledakan yang cukup keras. "Banyak warga kampung kani yang mendengar ledakan itu pada Kamis siang. Tapi gak ngira itu pesawat jatuh," katanya. Jarak kampung Midri ke lokasi jatuhnya pesawat diperkirakan 15 kilometer atau empat jam perjalanan kaki.

Sumber :
Persda Network