Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 06:39 WIB
Evakuasi Bakal Terkendala Kabut dan Hujan
Sugiyarto | Sabtu, 28 Juni 2008 | 12:24 WIB
|
Share:

KOMPAS/AGUSTINUS HANDOKO
Anggota Paskhas TNI AU bersama relawan, Sabtu (28/6) berupaya mengevakuasi penumpang CASA 212 yang jatuh pada Kamis lalu. Puing-puing pesawat dan jenazah para penumpang ditemukan di ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut di Gunung Salak yang masuk Wilayah Gunung Malang, Kesatuan Pemangku Hutan Perum Perhutani Bogor.

TERKAIT:

JAKARTA, SABTU - Evakuasi korban jatuhnya pesawat  Cassa 212 bernomor A-2106 milik TNI AU hari ini akan menemui banyak kendala. Selain penemuannya di tepi tebing yang curam dengan kedalaman sekitar 500 meter, lokasinya sering diselimuti kabut dan acap kali turun hujan secara tiba-tiba.

Kendala lainnya, tim evakuasi tidak menemukan lokasi yang bisa untuk pendaratan helikopter di dekat lokasi. Kanan kiri diapit tebing yang curam. Halipad darurat hanya bisa dibuat di ketinggian sekitar 800 dpl. Padahal lokasi jatuhnya pesawat pada ketinggian 4.200 dpl. Jarak tempuh lokasi hellipad darurat di Gunung Salak ke lokasi masih lebih dari 10 kilometer.

"Kalau tidak hujan dan berkabut, korban bisa kita angkat dengan hellikopter. Helli stanby di udara dan korban satu-satu kita kerek dari bawah ke helli. Tapi kendalanya di sana itu sering tiba-tiba hujan dan diselimuti kabut," ungkap Hambali, salah satu anggota Basarnas yang terlibat dalam pencarian dan evakuasi korban pesawat Cassa ini kepada Persda Network.

Hambali berharap, Sabtu pagi (28/6), yang cerah ini tidak akan terganngu turunnya hujan dan kabut secara tiba-tiba, sehingga memudahkan evakuasi korban. "Kalau cuaca cerah dan bersahabat akan memudahkan dan mempercepat evakuasi. Semoga sepanjang hari tetap cerah.

Herdi, salah satu warga yang pertama menemukan lokasi jatuhnya pesawat, menyebutkan bahwa kabut dan hujan akan sulit dihindari. Di lokasi jatuhnya pesawat hampir pasti diselimuti kabut dan hujan.

"Hari-hari biasa saja hampir selalu turun hujan dan berkabut. Apalagi kalau ada peristiwa semacam ini, pasti akan tertutup kabut. Warga mempercayai turunnya kabut ini sebagai upaya penunggu gunung untuk menghalang-halangi evakuasi. Biar lancar harusnya pakai rutual agar penjaga gunung tidak menghalang-halangi," ungkapnya.

Sementara evakuasi lewat jalan darat jauh dan susah. Tidak ada akses jalan yang bisa dilalui mobil untuk sampai di lokasi. Akses jalan yang bisa dilalui mobil hanya sampai di Kampung Cibitung, Gunung Malang, Tenjolaya. Jarak dari kampung ini sampai dilokasi penemuan jatuhnya pesawat sekitar 15 Kilometer.

Sumber :
Persda Network