Laporan Wartawan Kompas, Irma Tambunan
JAMBI, KAMIS - Realisasi distribusi minyak goreng bersubsidi di Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, masih rendah. Ini disebabkan petugas kesulitan menjangkau rakyat miskin yang berada di wilayah pelosok.
Dari target penyaluran 30.000 liter untuk Kabupaten Merangin, petugas baru dapat mendistribusikan 23.184 liter sejak April lalu. Artinya, masih 6.816 liter lagi yang belum disalurkan.
Kepala Bidang Perdagangan, Bina Usaha, dan Jasa, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Merangin, Asman Hadi mengemukakan, penyaluran minyak goreng (migor) bersubsidi ini disebabkan pihaknya kesulitan menjangkau rakyat miskin di daerah pelosok.
Saat ini baru warga miskin pada tujuh kecamatan di sekitar ibu kota Bangko yang mendapat migor bersubsidi, yaitu Kecamatan Bangko, Bangko Barat, Batang Masumai, Tabir, Tabir Ilir, Pamenang Barat, dan Nalo Tantam. Masih 17 kecamatan lagi yang warga miskinnya belum mendapatkan jatah tersebut.
"Personel kami hanya delapan orang, yang bekerja mendistriburikan ke 24 kecamatan di Kabupaten Merangin. Padahal, sebagian besar rakyat miskin di sini berada di wilayah pelosok dan medan yang cukup berat untuk menjangkaunya," ujar Asman, Kamis (26/6) .
Kepala Seksi Pengembangan Disperindag Merangin, Suparno menambahkan, biaya transpor yang dialokasikan hanya Rp 120.000 per bulan, untuk dibagi rata ke seluruh personil yang bertugas. "Dana untuk transportasi sangat minim. Padahal, harga premium eceran di Merangin saja Rp 10.000-12.000 per liter," katanya.
Harga migor bersubsidi di Kabupaten Merangin dipatok Rp 9.500 per liter, dengan subsidi sebesar Rp 2.000 per liter. Penyaluran migor bersubsidi ditarget selesai pada September mendatang. Apabila target distribusi tak tercapai, dana subsidi akan kembali ke APBN.

