BANGKOK, SELASA - PM Thailand Samak Sundaravej semakin terpojok. Saat senat, majelis rendah parlemen, membahas pengajuan mosi tidak percaya, massa demonstran yang menuntutnya mundur semakin membesar.
Namun Samak bergemingn dan melontarkan tantangan ketika menghadapi sidang mosi yang diusulkan kelompok oposisi, Selasa (24/6). "Jangan main-main dengan orang seperti Samak," teriak politisi senior itu kepada para senator.
Para demonstran, dipimpin aktivis Aliansi Rakyat untuk Demokrasi, terus menduduki areal di sekitar Government House, kantor pemerintahan Thailand, setelah berhasil mendobrak barikade polisi pada Jumat (20/6) lalu.
Mereka menuduh pemerintahan Samak menjadi boneka mantan PM Thaksin Shinawatra yang digulingkan dalam kudeta militer 2006 lalu. Mereka juga menuduh Thaksin berupaya menghapus monarki Thailand.
Sehari sebelumnya, Senin (23/6), Samak dengan marah menolak semua tuduhan itu. Bahkan dengan marah ia mengatakan, hanya perdana menteri gila yang mau mundur untuk menjawab desakan itu.
Samak masih harus menghadapi tuduhan parlemen, Selasa (24/6), salah mengurus ekonomi yang dihantam kenaikan harga minyak, penggunaan bahasa yang kasar dan gagal melindungi kepentingan nasional dalam kasus sengketa atas kuil di dengan Kamboja.
Kubu oposisi menuding Samak menelikung parlemen ketika ia mendukung usulan Kamboja agar kuil Budha, Preah Vihear, dijadikan Situs Warisan Dunia UNESCO. Padahal Thailand masih menganggap kuil itu sebagai objek sengketa, meski Mahkamah Internasional menetapkan Kamboja sebagai pemilik pada 1962.
“Stabilitas pemerintahan masih bagus. Rekan-rekan koalisi tidak akan berpaling karena ada serangan oposisi. Mereka akan memberikan suara untuk mendukung Samak sebagai perdana menteri," kata Natawut Saikau, wakil juru bicara pemerintah kepada Associated Press.
Para demonstran mengizinkan Samak masuk Government House untuk memimpin rapat kabinet. Ia disambut sekitar 30 orang pendukungnya di pintu belakang gedung itu. "Demonstran tak membuatnya takut datang ke kantornya," kata Natawut.
Hari ini senat sedang membahas mosi terhadap Samak dan tujuh menterinya dan pemungutan suara atas mosi itu dijadwalkan pada Kamis (26/6). "Para senator akan membeber kesalahan pemerintah ini agar publik tahu bahwa pemerintah telah kehilangan legitimasi untuk menjalankan negara," kata Somchai Sawaengkan, satu dari 36 senator yang mengancam Samak.
Koalisi enam partai pemerintah saat ini menguasai dua pertiga dari 480 kursi di majelis rendah. Kalau ingin sukses, kubu oposisi harus bisa menyakinkan para sekutu Samak agar meninggalkannya. Kalau pun Samak menang, tetap saja para sekutunya masih mungkin mencabut dukungan bila aksi di jalanan semakin membesar.

