BANGKOK, MINGGU - Menghadapi eskalasi krisis politik di negaranya, Perdana Menteri Thailand Samak Sundaravej berencana menyampaikan pidato nasional Minggu (22/6) ini. Rencana itu akan dilakukan Samak Sundaravej setelah menolak merespon aksi demonstran antipemerintah yang berjanji akan mengepung kantornya sampai ia mundur dari jabatannya.
Demonstran tetap menduduki Gedung Pemerintah di Bangkok setelah menerobos barikade polisi yang menjaga kantor Samak Sundaravej tersebut Jumat (20/6). Krisis politik Thailand berlangsung dalam 3 pekan terakhir saat demonstran turun ke jalan-jalan untuk menentang pemerintah koalisi Samak Sundaravej.
Demonstran menilai pemerintah koalisi Samak Sundaravej merupakan perpanjangan tangan mantan perdana menteri Thaksin Shinawatra yang digulingkan lewat kudeta militer pada tahun 2006. "Pendirian kami jelas, kami akan tetap melancarkan protes dan mendirikan kamp di luar kantor Samak Sundaravej sampai pemerintah boneka Thaksin itu mundur," kata Suriyasai Katasila, juru bicara Aliansi Rakyat bagi Demokrasi.
Namun, juru bicara deputi pemerintah Natawut Saikau menerangkan Samak tidak akan tunduk pada tuntutan untuk melepaskan jabatannya. "Tuntutan itu tidak beralasan," kata Natawut Saikau.
Mosi tidak percaya terhadap pemerintah Samak yang diajukan Partai Demokrat yang oposisi akan diperdebatkan di parlemen pada Selasa (24/6) dan Rabu (25/6) nanti. Namun, Suriyasai menjelaskan debat yang akan berlangsung di parlemen itu tidak akan menyelesaikan krisis politik yang berlangsung.
Aliansi Rakyat bagi Demokrasi yakin keputusan pemerintah mengijinkan diadakannya mosi tidak percaya di parlemen hanya merupakan permainan politik untuk meredakan ketegangan. "Namun keputusan itu telah terlambat diambil," ujar Suriyasai.
Suriyasai menjelaskan pengunduran diri Samak belum cukup meredakan ketegangan politik. Menurut Suriyasai, itu karena demonstran ingin Partai Kekuatan Rakyat pimpinan Samak yang dianggap sebagai reinkarnasi dari partai terlarang Thaksin dibubarkan.

