WASHINGTON, KAMIS - Pendukung calon presiden AS dari Demokrat Barack Obama punya peluru baru untuk menyerang calon dari Republik, John McCain. Ini setelah McCain menyatakan penarikan pasukan dari Irak tidak terlalu penting.
McCain selama ini dikenal sebagai pendukung Perang Irak dan itu menjadi isu penting bagi kampanyenya. Ia percaya bahwa penambahan kekuatan di Irak justru akan menurunkan tingkat kekerasan di negeri kaya minyak itu. Memang ia pernah mengkritik manajemen perang, tetapi setelah ada penambahan pasukan di Irak, ia malah mendukung dan menyebutnya sukses. Sebaliknya Obama menentang keras perang itu sejak awal dan berjanji akan menarik pulang seluruh pasukan AS dalam 16 bulan pertama menjabat presiden.
Perbedaan pandangan itu kembali mendapat sorotan media ketika McCain ditanya stasiun NBC, apakah ia punya perkiraan waktu paling tepat untuk memulangkan pasukan, mengingat tingkat kekerasan sudah berkurang. "Tidak, tapi itu memang tidak terlalu penting. Yang penting adalah korban di Irak," katanya.
"Pasukan Amerika ada di Korea Utara, di Jepang, di Jerman. Tidak apa-apa. Korban di pihak Amerika, dan kemampuan menarik diri. Kami bakal mampu menarik diri. Namun kunci menuju ke sana adalah bahwa kita tidak ingin ada lagi orang Amerika dalam bahaya," tambahnya.
Mendengara pernyataan itu, kubu Demokrat langsung mengecam dan menyebut McCain tidak sensitif atas keinginan para pemilih dan kebutuhan militer AS yang ditekan keras untuk memenuhi kewajibannya. Senator John Kerry tanpa ragu menyemprot McCain.
"Sangat tidak nyantol dengan keprihatinan dan keinginan warga Amerika, khususnya para keluarga prajurit. Bagi mereka, hal terpenting di dunia adalah anak-anaknya bisa pulang. Dan, paling penting adalah bahwa kita punya panglima tertinggi yang paham bagaimana membawa mereka pulang," kata Kerry.
Dalam sebuah pertemuan dengan warga di balai kota Philadelphia, McCain agaknya langsung menanggapi tuduhan bahwa dia tidak sensitif terhadap keinginan para veteran perang dan keluarganya. "Saya tahu perang telah menyebabkan kesedihan. Tetapi saya yakin bahwa dalam konflik di Irak, dengan strategi baru, kita akan berhasil," katanya.
