Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 04:53 WIB
Ribut-ribut FPI dan Ahmadiyah Turunkan Minat Turis
Lukas Adi Prasetyo | Kamis, 12 Juni 2008 | 06:38 WIB
|
Share:

KOMPAS/ANTONY LEE
Wisatawan mancanegara di di Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang, disambut tarian kuda lumping.

TERKAIT:

YOGYAKARTA, RABU - Peristiwa-peristiwa yang berbalut kekerasan, sekecil apapun, menurunkan minat wisatawan asing datang ke Yogyakarta. Celakanya, pascakenaikan bahan bakar minyak, peristiwa seperti itu tetap ada, bahkan frekuensinya tak berkurang.

Sayangnya masyarakat belum paham keterkaitan antara kejadian kekerasan dengan kunjungan wisatawan. Peristiwa terakhir dan masih berlangsung, misalnya, adalah demo dan gerakan radikal terkait pembubaran aliran Ahmadiyah, juga Front Pembela Islam (FPI).  

"Walau peristiwanya di Jakarta, orang di luar negeri langsung mencap Indonesia tak aman. Imbasnya, kunjungan turis ke Yogyakarta pasti turun," kata Deddy Pranowo Eryono, Sekretaris Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta (BP2KY) Rabu (11/6).

Deddy yang juga General Manajer Hotel Ruba Graha Yogyakarta ini mengaku sering dikonfirmasi relasi-relasinya di luar negeri untuk menanyakan keadaan sesungguhnya di Yogyakarta, aman atau tidak. "Kalaupun tetap ke Yogya, besar kemungkinan masa tinggal mereka berkurang," ucapnya.

Purwanto, perajin perak dan pemilik YK Silver 925 di Kotagede, mengungkapkan, untuk menarik wisatawan asing, pemerintah daerah tak hanya semata memerhatikan keamanan, dan bukan dukungan uang, melainkan promosi kawasan.

"Saya heran, mengapa tak ada usaha pemerintah daerah membuat papan reklame di jalan-jalan utama yang menunjukkan bahwa Kotagede adalah sentra perak. Demikian pula dengan sentra seni yang lain. Mengapa pula tak terpikir mendatangkan turis dengan cara sederhana, seperti mengupayakan andong dengan rute Kraton, Malioboro, dan Kotagede," kata Purwanto.