JAKARTA, SELASA – Maraknya industri pariwisata di Bali membuat persaingan antar pelaku industri pariwisata di Pulau Dewata itu kian sengit. Ternyata, jor-joran harga bukan hanya cerita antar operator seluler di negeri ini. Di Bali, sejumlah agen travel berani menjual harga paket wisata jauh di bawah budget. Lalu dari mana mereka dapat untung? Ada triknya.
“Persaingan begitu sengit. Sejumlah agen travel berani menjual paket wisatanya ke agen luar negeri hingga 80 persen dari budget,” ungkap Waki Ketua ASITA (Association of the Indonesia Tours and Travel Agencies) Bali, I Ketut Ardana, Selasa (10/6), di Jakarta.
Yang penting, tutur Ardana, wisatawan asing datang dulu ke Bali. Untuk menutup sisa 20 persennya, para agen travel ini kemudian “menjual” para wisatawan yang datang kepada para pemandu wisata. “Istilahnya jual beli kepala. Semakin banyak rombongan yang datang, ya semakin mahal harganya,” ujar Ardana.
Para pemandu wisata pun berebutan untuk membeli rombongan turis mancanegara ini. Ujung-ujungnya, para pemandu wisata harus berpikir keras untuk mendapatkan untung dari uang yang mereka keluarkan guna mendapatkan rombongan wisatawan. Mereka akan berusaha sedemikian rupa mendapatkan komisi dari toko-toko yang mereka rekomendasikan kepada para wisatawan yang mereka pandu.
“Para pemandu ini kan mendapatkan fee dari toko penganan, pakaian, atau souvenir. Nah, repotnya, acara para rombongan ini nantinya akan dijejali oleh kunjungan ke toko-toko. Minim sekali penjelasan tentang budaya dan keindahan Bali,” tutur Ardana.
ASITA Bali sendiri, ungkap dia, pusing dengan sengitnya persaingan tersebut. “Pekerjaan rumah besar bagi kami untuk mengatur tata niaga industri wisata di Bali. Kami terus berusaha mendekati pemerintah daerah untuk segera menelurkan peraturan daerah mengenai tata niaga wisata. Kami khawatir kalau ini terus berlanjut akan merusak citra pariwisata Bali,” tandasnya.